x

Waspada Penyakit Campak, Kenali Gejala dan Risikonya

waktu baca 2 menit
Rabu, 18 Mar 2026 18:01 24 Azis Arriadh

TODAYNEWS.ID – Dosen Program Studi Spesialis Kedokteran Keluarga Layanan Primer Unika Atma Jaya Dr. dr. Regina Satya Wiraharja, M.Sc. menjelaskan bahwa penyakit campak disebabkan oleh infeksi virus RNA yang berasal dari keluarga Paramyxoviridae.

Dalam keterangan persnya pada Rabu, dokter lulusan Universitas Gadjah Mada tersebut mengungkapkan bahwa virus penyebab campak dapat menular melalui percikan ludah atau ingus penderita yang menyebar di udara saat seseorang bernapas, batuk, maupun bersin.

Setelah berhasil masuk ke dalam tubuh, ia menuturkan bahwa virus campak akan berkembang biak lalu menyebar melalui saluran getah bening, limpa, hati, hingga saluran pernapasan.

Menurutnya, masa inkubasi penyakit campak umumnya berlangsung selama delapan hingga 14 hari. Selanjutnya, gejala penyakit ini akan muncul secara bertahap.

Pada tahap awal, yang biasanya berlangsung sekitar dua hingga tujuh hari, penderita campak akan mengalami demam tinggi, tubuh terasa lemas, pilek, batuk, serta mata menjadi merah dan sensitif terhadap cahaya.

Selain itu, pada beberapa kasus juga dapat ditemukan bercak khas di bagian dalam pipi yang dikenal sebagai Koplik spots.

Tahap berikutnya ditandai dengan munculnya ruam, biasanya terjadi pada hari ke-4 hingga ke-14. Ruam kemerahan ini awalnya muncul di area telinga atau wajah, kemudian menyebar ke seluruh tubuh dalam waktu enam hingga tujuh hari. Kondisi ini kerap disertai dengan demam tinggi.

Memasuki fase penyembuhan, demam umumnya mulai mereda dalam waktu tiga hingga empat hari. Sementara itu, ruam akan berubah warna menjadi kecokelatan dan perlahan menghilang dalam kurun waktu tujuh hingga 10 hari.

“Apabila seseorang mengalami gejala yang mengarah pada campak, segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan serta membatasi kontak dengan orang lain guna mencegah penularan lebih lanjut,” kata Regina.

Regina juga menambahkan bahwa dalam banyak kasus, penyakit campak dapat sembuh dengan sendirinya.

Namun demikian, penyakit ini tetap berpotensi menimbulkan komplikasi serius, seperti radang paru, diare, dehidrasi, infeksi telinga tengah, hingga peradangan otak.

Risiko komplikasi tersebut umumnya lebih tinggi pada bayi, individu dengan daya tahan tubuh lemah, serta orang yang mengalami kekurangan gizi atau vitamin A.

Pada ibu hamil, infeksi campak juga dapat meningkatkan risiko komplikasi kehamilan, seperti keguguran, kelahiran prematur, hingga bayi lahir dengan berat badan rendah.

Pilkada & Pilpres

INSTAGRAM

24 hours ago
1 day ago
1 day ago
2 days ago
2 days ago
3 days ago

LAINNYA
x
x