Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri (tengah) memberikan keterangan kepada pers usai acara pembukaan Posko Nasional Sektor ESDM Ramadan dan Idulfitri 1447 H di Kantor BPH Migas, Jakarta, Kamis (12/3/2026). (Foto: ANTARA) TODAYNEWS.ID – PT Pertamina (Persero) mengantisipasi pasokan energi nasional dengan membuka sumber impor alternatif di tengah dinamika distribusi energi global di Selat Hormuz imbas konflik geopolitik di Timur Tengah.
Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri mengatakan perusahaan telah menyiapkan langkah antisipasi berupa pencarian alternatif impor dari kawasan lain guna menjaga ketahanan stok energi nasional.
“Jadi tentunya kita sudah antisipasi untuk mencari sumber yang lain supaya ketahanan stoknya juga bisa baik dan bagus,” kata Simon di Jakarta, Kamis.
Ia menjelaskan bahwa sumber pasokan energi Indonesia tidak hanya berasal dari Timur Tengah, tetapi juga dari sejumlah wilayah lain seperti Afrika dan Amerika Serikat.
“Untuk antisipasi kami juga melakukan diversifikasi sumber. Sumber-sumber kita tidak hanya dari Timur Tengah, ada juga dari Afrika, ada dari Amerika Serikat, dan berbagai tempat lainnya,” ujarnya.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah sebelumnya sempat memicu gangguan pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan energi dunia yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global.
Selat tersebut merupakan salah satu rute utama pengiriman minyak mentah dari negara-negara produsen di Timur Tengah menuju berbagai negara konsumen di dunia.
Pemerintah sebelumnya mencatat bahwa sekitar 20–25 persen impor minyak mentah Indonesia dikirim melalui Selat Hormuz.
Langkah pencarian alternatif impor minyak ini juga direncanakan Pertamina setelah dua kapal tanker milik Pertamina International Shipping (PIS) masih berada di kawasan Teluk Arab dan belum dapat melintasi Selat Hormuz.
Dua kapal tersebut adalah very large crude carrier (VLCC) Pertamina Pride dengan ship management dari NYK serta kapal Gamsunoro yang dikelola oleh Synergy Ship Management.
Berdasarkan laporan PIS pada Senin (2/3), Pertamina Pride telah selesai melakukan proses loading dan berlabuh di Ras Tanura, Arab Saudi. Sementara itu, Gamsunoro masih menjalani proses loading di Khor al Zubair, Irak.
Sementara itu, dua kapal PIS lainnya, yakni PIS Paragon dan PIS Rinjani, dilaporkan berada di luar kawasan perairan Timur Tengah tersebut.
“Yang menjadi perhatian kami yang utama adalah keselamatan para kru dan keselamatan kargo kami. Tentunya kami terus berkoordinasi dengan berbagai pihak dari Kementerian Luar Negeri, dari semua pihak dan kita juga mendorong supaya situasi di sana semakin baik,” tutur Simon.
Pertamina International Shipping saat ini mengoperasikan sekitar 345 kapal untuk mendukung distribusi energi.
Dari total armada tersebut, sebanyak 266 kapal melayani pengangkutan BBM dan avtur, 27 kapal mengangkut minyak mentah, 45 kapal melayani distribusi LPG, serta 7 unit kapal digunakan untuk pengangkutan petrokimia sekaligus sebagai floating storage.
Selain menjaga pasokan melalui impor, Pertamina juga akan terus mendorong peningkatan produksi energi domestik.
“Kita kan punya kerja sama di Blok Cepu ya, jadi sama-sama harus maksimal. Dengan penambahan fasilitas di sana kita dorong supaya produksinya bisa meningkat,” ucap Simon.