x

Fakta-Fakta Tentang Gunung Bulusaraung, Tempat Jatuhnya Pesawat ATR 42-500

waktu baca 3 menit
Senin, 19 Jan 2026 23:50 32 Yunita

TODAYNEWS.ID – Pesawat ATR 42-500 yang hilang kontak pada Sabtu (17/1/2026) ditemukan jatuh di Gunung Bulusaraung Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.

Dari keterangan Kepala Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Soerjanto Tjahjono, pesawat tersebut dipastikan menabrak lereng gunung sehingga meledak dan hancur.

Gunung Bulusaraung berdiri tepat di perbatasan Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep). Gunung tersebut bukan sekadar objek wisata pendakian, tetapi menjadi pilar penting bagi keseimbangan ekologi di Sulawesi Selatan.

Bulusaraung sendiri berasal dari dua suku kata bahasa Bugis, yakni “bulu” dan “saraung.” “Bulu” berarti gunung dan “saraung” bermakna topi caping yang sering dipakai oleh petani untuk melindunginya dari panas terik ketika melakukan aktivitas di sawah.

Berikut fakta tentang Gunung Bulusaraung.

  1. Bagian dari kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung

Secara administratif, Gunung Bulusaraung menjadi bagian dari kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung (TN BaBul) yang dikelola oleh Pemkab Maros dan Pemkab Pangkep. Statusnya sebagai kawasan lindung membuat gunung ini memegang peranan penting dalam menjaga siklus hidrologi dan iklim mikro di wilayah Maros-Pangkep.

Secara geologis, kawasan ini adalah bagian dari bentang alam karst Maros-Pangkep yang diakui sebagai salah satu yang terbesar dan terpenting di dunia. Bulusaraung sendiri menyimpan sejarah panjang pembentukan daratan Sulawesi jutaan tahun silam, termasuk jejak manusia pra-sejarah di dalam beberapa guanya.

Gunung ini memiliki ketinggian sekitar 1.353 mdpl. Memang tidak setinggi Bawakaraeng, tapi keberadaannya tetap vital. Bulusaraung memastikan bahwa ekosistem hutan hujan tropis pegunungan tetap terjaga, di tengah ancaman perubahan iklim dan aktivitas manusia.

  1. Menjadi rumah untuk beragam flora dan fauna endemik

Dilansir oleh situs resmi TN BaBul, Bulusaraung menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati Sulsel. Kawasan hutan di lereng menjadi habitat alami bagi satwa endemik yang terancam punah. Sebut saja Kera Hitam Sulawesi (Macaca maura), Musang Sulawesi (Macrogolidia mussenbraecki), Kuskus Beruang (Ailurops ursinus) hingga Enggang Sulawesi (Ryticeros cassidix).

Tak cuma fauna, terdapat puluhan jenis flora yang tumbuh di gunung tersebut. Umumnya mereka adalah vetegasi karst dan hutan daratan rendah. Mulai dari Calophilum spSapotaceaeAleurites moluccanaPterocarpus indicus, serta Dracontomelon dao. Tak pelak, kelestarian hutan jadi syarat mutlak keberlangsungan hidup mereka, sekaligus menjaga flora dan fauna tersebut dari ancaman kepunahan.

  1. Mengumpulkan dan menampung air untuk digunakan ratusan ribu warga

Dalam buku Cerita dari Timur: Catatan Perjalanan Ekspedisi Taman Nasional (Gadjah Mada Universitu Press, 2016), dijelaskan bahwa Bulusaraung turut berfungsi sebagai daerah tangkapan air untuk warga yang mendiami kawasan tersebut. Hutan di lerengnya menyerap air hujan, lalu menyimpannya dalam sungai-sungai bawah tanah dan gua-gua karst. Air tersebut kemudian keluar melalui mata air di kawasan desa sekelilingnya.

Limpahan air tersebut kemudian digunakan warga Pangkep dan Maros untuk berbagai kebutuhan sepanjang tahun. Mulai dari irigasi, air baku PDAM hingga penunjang pariwisata. Dan hal tersebut sudah berlangsung lintas generasi. Tanpa hutan di Bulusaraung, masyarakat akan menghadapi krisis air parah di musim kemarau.

Lebih jauh, hutan lebatnya berfungsi untuk menahan laju erosi dan mencegah terjadinya tanah longsor. Tak pelak, kelestarian Bulusaraung tak cuma berbicara tentang kehidupan flora-fauna endemik, tapi juga hidup ratusan ribu penduduk dua kabupaten di sekelilingnya.

4 Menjadi salah satu tujuan pendakian populer di Sulawesi Selatan

Sama seperti Bawakaraeng, Bulusaraung juga menjadi favorit pada pendaki meski medannya didominasi bukit karst nan terjal. Jalur pendakian yang dimulai dari Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, menawarkan tantangan teknis sehingga perlu kesiapan fisik mumpuni. Terlebih bagian puncaknya kerap diselimuti awan dan berangin kencang.

Menariknya, jalur pendakian Bulusaraung sudah tertata rapi dengan adanya pembagian “pos” yang menjadi tempat persinggahan untuk beristirahat. Total ada 10 pos yang harus dilalui sebelum mencapai puncak. Lokasinya yang relatif dekat dari Kota Makassar (sekitar 2-3 jam perjalanan) membuat Bulusaraung ini jadi salah satu tujuan favorit mahasiswa dan komunitas pecinta alam menghabiskan masa akhir pekan.

 

Pilkada & Pilpres

INSTAGRAM

11 hours ago
18 hours ago
1 day ago
1 day ago

LAINNYA
x
x