x

Latsarmil bagi Calon Manajer KDMP Tidak Penting

waktu baca 3 menit
Kamis, 25 Jun 2026 12:26 29 Akbar Budi

TODAYNEWS.ID – Program Latihan Dasar Militer (Latsarmil) bagi calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dinilai kurang efektif.

“Menurut saya tidak penting pelatihan militer terhadal manajer KDMP,” kata Pakar Kebijakan Publik, Fernando Emas kepada TODAYNEWS, Kamis (25/6/2026).

Ia memandang, calon manajer KDMP seharusnya diberikan pelatihan dasar tentang integritas dan anti korupsi.

“Lebih penting bagi mereka diberikan pelatihan anti korupsi oleh KPK dan manajemen serta pemasaran oleh lembaga profesional terkait dibandingkan pelatihan militer,” katanya.

Ia menyayangkan, pelatihan Latsarmil mengakibatkan tiga calon manajer KDMP meninggal dunia.

“Apalagi pelatihan tersebut sampai ada korban meninggal dunia sebanyak 3 orang. Walaupun ada penyakit bawaan,” ujarnya.

Ia berharap perlu adanya evaluasi secara menyeluruh terkait dengan Latsarmil bagi calon manajer KDMP.

“Saya berharap dilakukan sanksi terhadap para pelatih karena kelalaian mereka menyebabkan ada korban meninggal dunia,” katanya.

Sebelumnya, kementerian Pertahanan (Kemenhan) mengungkapkan bahwa sebanyak tiga calon manajer Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih (KDMP) meninggal dunia selama mengikuti Latihan Dasar Militer (Latsarmil).

Peristiwa tersebut menjadi perhatian pemerintah yang kini melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program, khususnya terkait aspek kesehatan dan keselamatan peserta.

Peserta pertama yang meninggal adalah Anisa Muyassaroh. Ia mengikuti pendidikan di Satuan Pendidikan (Satdik) Dodikjur Resimen Induk Daerah Militer (Rindam) VI/Mulawarman, Balikpapan.

Anisa mengalami gangguan kesehatan pada 18 Juni 2026 sebelum mendapatkan penanganan medis di fasilitas kesehatan satuan dan kemudian dirujuk ke rumah sakit.

“(Anisa) mengalami gangguan kesehatan pada 18 Juni 2026 dan telah mendapatkan penanganan medis di fasilitas kesehatan satuan sebelum dirujuk ke rumah sakit. Berdasarkan keterangan medis, yang bersangkutan dinyatakan meninggal dunia akibat heat stroke,” ujar Karo Infohan Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait melalui siaran pers, Selasa (23/6/2026).

Korban kedua adalah Yonanda Muhammad Taufiq yang mengikuti pendidikan di Satdik Pusat Pendidikan dan Latihan Tempur (Puslatpur) Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan, dan Latihan TNI Angkatan Darat (Kodiklatad), Baturaja. Yonanda mengalami penurunan kondisi kesehatan pada 17 Juni 2026 sebelum dirujuk ke rumah sakit.

“Berdasarkan keterangan medis, yang bersangkutan dinyatakan meninggal dunia akibat cardiac arrest (henti jantung),” ungkap Rico.

Sementara itu, peserta ketiga yang meninggal adalah Novia Rahmadhani Sihotang. Ia mengikuti pendidikan di Satdik Pusbahasa Kodiklatau Jakarta.

Rico menjelaskan, Novia mengalami gangguan kesehatan pada 22 Juni 2026 dan langsung mendapat penanganan dari tim kesehatan satuan. Karena kondisinya terus memburuk, Novia kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Angkatan Udara (RSAU) dr. Esnawan Antariksa untuk menjalani perawatan lebih lanjut.

“Meskipun telah memperoleh perawatan intensif, yang bersangkutan dinyatakan meninggal dunia pada 23 Juni 2026. Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, kondisi kesehatan yang dialami berkaitan dengan penyakit Tuberkulosis (TB),” jelas Rico.

Kemenhan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga ketiga peserta yang meninggal dunia. Bersama Panitia Seleksi Nasional dan penyelenggara pendidikan, Kemenhan kini melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program sekaligus memperkuat pengawasan kesehatan peserta agar keselamatan dan kesehatan menjadi prioritas utama selama proses pendidikan.

Di sisi lain, Anggota Komisi VI DPR Imas Aan Ubudiyah meminta adanya evaluasi terhadap skema rekrutmen calon manajer Kopdes Merah Putih. Menurutnya, peristiwa tersebut harus menjadi momentum untuk memperbaiki tata kelola program.

“Musibah ini hendaknya menjadi pelajaran berharga untuk memperkuat tata kelola. Retret tetap penting, tetapi standar mitigasi risiko, skrining kesehatan, pendampingan medis, dan pemetaan kemampuan fisik peserta juga harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembinaan,” ujar Imas dalam keterangannya, Rabu (24/6/2026).

“Dengan demikian, tujuan mencetak manajer koperasi yang tangguh dapat tercapai tanpa mengabaikan aspek keselamatan,” sambungnya.

Imas juga mengusulkan agar seluruh calon pengelola Kopdes Merah Putih menjalani pemeriksaan kesehatan secara independen dan profesional sebelum mengikuti Latsarmil.

Menurutnya, langkah tersebut penting untuk memastikan kesiapan fisik peserta sehingga mereka yang memiliki riwayat penyakit atau kondisi kesehatan tertentu dapat memperoleh pola pembinaan yang lebih sesuai.

“Alangkah baiknya apabila sebelum retret dilakukan pemeriksaan kesehatan secara independen terhadap seluruh calon peserta,” katanya.

Pilkada & Pilpres

INSTAGRAM

4 hours ago
16 hours ago
1 day ago
2 days ago
2 days ago
2 days ago

LAINNYA
x
x

mancingduit

situs slot gacor