x

IHSG Melemah, Pasar Masih Tunggu Sentimen Positif Global-Domestik

waktu baca 4 menit
Selasa, 30 Jun 2026 10:00 24 Azis Arriadh

TODAYNEWS.ID – IHSG Melemah pada pembukaan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa pagi. Pelemahan terjadi karena pelaku pasar masih memilih bersikap wait and see sambil menanti sentimen positif dari dalam maupun luar negeri.

IHSG dibuka turun 19,34 poin atau 0,33 persen ke level 5.801,45. Sementara itu, Indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan juga melemah 4,02 poin atau 0,70 persen ke posisi 568,99.

“Apabila rebound terjadi, IHSG berpotensi menguji resistance 5.996-6.013, dan jika mampu menembus area tersebut, penguatan berpotensi berlanjut menuju 6.097 hingga 6.221-6.287. Namun, apabila support 5.722 gagal dipertahankan, risiko koreksi yang lebih dalam menuju 5.677 hingga 5.594 masih terbuka,” ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya di Jakarta, Selasa.

Dari pasar global, sentimen cenderung positif dengan perhatian investor kembali mengarah ke sektor teknologi setelah mengalami koreksi tajam pada pekan lalu. Meski begitu, pelaku pasar masih berhati-hati menjelang rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) pada Kamis (01/07), yang dinilai akan memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed.

Di sisi lain, data Deutsche Bank menunjukkan ETF dan reksa dana berbasis teknologi mencatat outflow sebesar 9,3 miliar dolar AS sepanjang pekan lalu. Kondisi tersebut mengindikasikan sebagian investor masih melakukan diversifikasi investasi ke sektor lain.

Sepanjang pekan ini, perhatian pasar juga tertuju pada sejumlah agenda penting, mulai dari data Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTs) AS, pidato Gubernur The Fed Kevin Warsh, hingga data Non-Farm Payrolls (NFP) dan tingkat pengangguran AS.

Sementara itu, ketegangan geopolitik kembali menjadi sorotan setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran saling melancarkan serangan pada akhir pekan. Iran dilaporkan menyerang sejumlah kapal yang melintas di Selat Hormuz, sedangkan AS membalas dengan menyerang fasilitas militer Iran.

Meski demikian, kekhawatiran pasar mulai mereda setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan Iran mengajukan pertemuan diplomatik di Doha, Qatar. Namun, pemerintah Iran membantah adanya agenda negosiasi tersebut.

“Kondisi ini membuat premi risiko geopolitik kembali meningkat namun belum memicu kepanikan di pasar keuangan global,” ujar Liza.

Dari dalam negeri, pelaku pasar kini menantikan rilis data PMI Manufaktur Indonesia, inflasi Juni, serta neraca perdagangan. Ketiga indikator tersebut dinilai penting untuk mengukur kekuatan aktivitas ekonomi nasional sekaligus menjadi pertimbangan arah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI).

Di sisi lain, pemerintah terus memperkuat fundamental ekonomi melalui kombinasi kebijakan fiskal, moneter, serta penguatan likuiditas perbankan.

Kementerian Keuangan memutuskan mengembalikan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp110 triliun yang sebelumnya sempat ditarik dari Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Dengan langkah tersebut, total penempatan dana pemerintah di perbankan tetap sebesar Rp281 triliun dan diperpanjang hingga akhir Desember 2026.

Selain itu, pemerintah juga menyiapkan tambahan dana siaga (standby facility) senilai Rp100 triliun untuk menjaga likuiditas perbankan di tengah tingginya permintaan kredit. Hingga Mei 2026, pertumbuhan kredit masih tercatat mencapai 11,5 persen secara tahunan (year on year/YoY).

Dari sisi moneter, kebijakan Bank Indonesia (BI) yang telah menaikkan BI Rate sebesar 100 basis poin sepanjang 2026 mulai menunjukkan dampak positif. Hingga 26 Juni 2026, aliran dana asing ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) telah mencapai sekitar 9 miliar dolar AS, yang mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap aset keuangan Indonesia.

Menurut Liza, kombinasi masuknya arus modal asing, penguatan likuiditas perbankan, serta dukungan pemerintah terhadap investasi dan ekspor berpotensi menjadi sentimen positif bagi stabilitas nilai tukar rupiah, pasar obligasi, dan sektor perbankan.

Pada perdagangan Senin (29/06), bursa saham Eropa bergerak bervariasi. Indeks Euro Stoxx 50 menguat 0,04 persen, sementara FTSE 100 Inggris turun 0,21 persen, DAX Jerman melemah 0,20 persen, dan CAC 40 Prancis terkoreksi 0,20 persen.

Sementara itu, bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup menguat pada Senin (29/06). Indeks Dow Jones Industrial Average naik 0,59 persen, S&P 500 menguat 1,17 persen, dan Nasdaq Composite melonjak 2,07 persen.

Bursa saham Asia pada perdagangan Selasa pagi bergerak bervariasi. Indeks Nikkei menguat 0,54 persen ke level 69.885,00, sedangkan Shanghai melemah 0,33 persen ke 4.060,48, Hang Seng turun 1,39 persen ke 22.757,00, dan Strait Times terkoreksi 0,40 persen ke posisi 5.187,90.

Pilkada & Pilpres

INSTAGRAM

6 hours ago
1 day ago
1 day ago
2 days ago
4 days ago
4 days ago

LAINNYA
x
x

mancingduit

situs slot gacor