Presiden Prabowo Subianto duduk bersama Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam rangkaian HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Foto: Tangkapan layar youtube sekretariat presiden TODAYNEWS.ID – Presiden Prabowo Subianto duduk bersama Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam rangkaian HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Momen tersebut menarik perhatian publik dan memunculkan pesan politik menjelang Pilpres 2029.
Pengamat politik Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago, menilai interaksi Prabowo dan Jokowi dalam momen tersebut terlihat cair. Meski demikian, dia mengingatkan agar publik tidak terburu-buru menarik kesimpulan politik dari satu momen.
“Kalau melihat momennya, tidak terlihat adanya jarak yang mencolok antara Prabowo dan Jokowi. Mereka bisa berbincang dan menikmati acara bersama. Tetapi tentu satu momen tidak cukup untuk menyimpulkan keseluruhan hubungan politik keduanya,” ujar Arifki pada Selasa (18/8/2026).
Menurutnya, hubungan Jokowi dan Prabowo memiliki sejarah politik yang panjang. Keduanya pernah menjadi rival dalam Pilpres 2014 dan 2019 sebelum akhirnya membangun kerja sama politik.
“Ini menunjukkan bahwa hubungan politik bisa berubah mengikuti dinamika dan kepentingan yang berkembang. Rivalitas elektoral tidak selalu berarti hubungan personal atau politik harus terus berseberangan,” katanya.
Momen tersebut juga menjadi sorotan karena Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono tidak hadir dalam momentum yang sama. Namun, Arifki menilai hal itu tidak perlu dimaknai sebagai pertarungan simbolik.
Meski demikian, secara visual, konfigurasi Prabowo-Jokowi-Gibran memang menjadi lebih menonjol.
“Dalam komunikasi politik, sebuah frame bisa membentuk persepsi. Tetapi persepsi itu tetap perlu dibaca bersama konteks yang lebih luas,” ujarnya.
Posisi Prabowo yang berada di antara Jokowi dan Gibran juga dinilai memiliki makna simbolik. Tiga figur tersebut saat ini dan sebelumnya memegang posisi penting dalam pemerintahan.
“Jokowi merupakan mantan Presiden, Prabowo Presiden saat ini, sementara Gibran adalah Wakil Presiden. Satu frame ini mempertemukan tiga posisi politik dalam satu momentum. Apakah itu memiliki konsekuensi politik lebih jauh, tentu masih terlalu dini untuk disimpulkan,” kata Arifki.
Dia juga mengingatkan agar momen tersebut tidak langsung dikaitkan dengan konfigurasi Pilpres 2029.
“Kita masih terlalu jauh kalau menjadikan satu momen sebagai indikasi koalisi atau pasangan politik 2029. Yang bisa kita katakan saat ini adalah hubungan komunikasi antara Jokowi dan Prabowo terlihat tetap cair,” ujarnya.
Arifki menilai publik sebaiknya tidak membaca dinamika politik hanya berdasarkan satu sumber atau satu narasi. Menurutnya, hubungan elite politik kerap terlihat hitam-putih di media sosial, padahal komunikasi politik jauh lebih kompleks.
“Seseorang bisa berbeda kepentingan tetapi tetap berkomunikasi dengan baik. Dekat tidak selalu berarti satu agenda, dan berbeda tidak selalu berarti bermusuhan,” katanya.
Karena itu, Arifki melihat pertemuan tersebut lebih tepat dibaca sebagai sinyal komunikasi yang baik antara Prabowo dan Jokowi, bukan sebagai kesimpulan mengenai arah politik ke depan.
“Karena itu, saya melihat momen ini sebagai kode komunikasi yang baik, bukan kesimpulan politik. Apakah kedekatan tersebut akan berlanjut dan memiliki implikasi terhadap konfigurasi politik ke depan, tentu akan terlihat dari perkembangan politik berikutnya. Untuk saat ini, publik cukup membaca apa yang terlihat tanpa perlu menarik kesimpulan terlalu jauh,” pungkasnya.