CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani, yang juga Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, menjawab pertanyaan wartawan saat ditemui di Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Kamis (6/8/2026). Foto: ANTARA TODAYNEWS.ID – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) memperluas akses masyarakat terhadap kepemilikan rumah pertama dengan menghadirkan pilihan hunian dan pembiayaan secara terintegrasi, termasuk untuk generasi muda.
CEO Danantara Rosan Roeslani menilai masyarakat, khususnya pembeli rumah pertama dari kalangan Generasi Z, membutuhkan kemudahan untuk membandingkan hunian sekaligus mendapatkan informasi mengenai skema pembiayaan yang sesuai dengan kemampuan finansial.
“Kami ingin menghadirkan ekosistem yang memudahkan masyarakat memiliki rumah. Dalam satu tempat, calon pembeli dapat melihat berbagai pilihan hunian sekaligus memperoleh akses ke alternatif pembiayaan yang sesuai dengan kemampuan finansial mereka,” kata Rosan dalam keterangan resmi diterima di Jakarta, Sabtu.
Ia menjelaskan, tantangan kepemilikan rumah bukan hanya berkaitan dengan ketersediaan hunian. Kemudahan memperoleh informasi, membandingkan proyek, dan memilih skema pembiayaan yang tepat juga menjadi faktor penting.
Ekosistem tersebut akan dihadirkan Danantara melalui Danantara Housing Expo 2026 yang berlangsung pada 27-30 Agustus 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK, Jakarta.
Melalui pameran tersebut, masyarakat dapat mengakses lebih dari 200.000 pilihan hunian yang tersedia bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) maupun kelompok non-MBR.
Calon pembeli juga bisa berkonsultasi langsung dengan pengembang, bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), dan bank syariah untuk mendapatkan simulasi pembiayaan perumahan.
Berdasarkan keterangan Danantara, alternatif pembiayaan yang ditawarkan mencakup uang muka mulai 1 persen, suku bunga atau margin mulai 2,75 persen, tenor hingga 30 tahun, serta skema angsuran bertahap.
Rosan berharap beragam pilihan tersebut dapat membantu masyarakat menyesuaikan keputusan pembelian rumah dengan kondisi dan kemampuan finansial masing-masing.
“Rumah-rumah tersebut juga dirancang agar dapat dibeli masyarakat dengan suku bunga yang lebih menarik serta mekanisme pembayaran yang lebih baik,” ujarnya.
Danantara menilai tantangan kepemilikan hunian saat ini juga dipengaruhi perubahan karakteristik penghasilan di kalangan generasi muda.
Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2025, sekitar 81 juta anak muda di Indonesia belum mempunyai hunian pribadi.
Sementara itu, survei Deloitte pada 2026 yang dikutip Danantara menunjukkan hampir 30 persen Generasi Z memiliki pekerjaan sampingan. Kondisi tersebut menggambarkan semakin beragamnya sumber penghasilan generasi muda.
Menurut Rosan, perubahan pola kerja dan sumber penghasilan itu perlu diimbangi dengan pendekatan pembiayaan yang lebih adaptif.
Untuk mewujudkannya, Danantara mendorong kolaborasi antara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) properti, Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), lembaga pembiayaan, dan pengembang guna menyederhanakan proses kepemilikan rumah pertama.
“Kolaborasi lintas sektor ini menjadi penting agar masyarakat tidak lagi dihadapkan pada proses yang rumit ketika ingin memulai langkah memiliki rumah pertama,” ucap Rosan.
Ia berharap integrasi pilihan hunian, informasi, dan pembiayaan tersebut mampu memperluas akses kepemilikan rumah sekaligus mendukung penyediaan hunian yang lebih inklusif bagi masyarakat.