x

Muktamar ke-35 NU: Investasi Peradaban Lewat Pesantren Unggulan di Tiap Provinsi

waktu baca 3 menit
Senin, 29 Jun 2026 11:47 38 Dhanis Iswara

Oleh: Dr. H. A. Effendy Choirie, M.Ag., M.H. (Ketua Umum DNIKS 2024–2029) 

Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) bukan sekadar ritual lima tahunan untuk memilih Rais Aam dan Ketua Umum PBNU. Lebih dari itu, forum tertinggi ini adalah momentum refleksi dan kompas arah peradaban NU memasuki abad keduanya.

Sebagai organisasi Islam terbesar di dunia dengan jutaan jemaah dan ribuan pesantren, NU memanggul tanggung jawab sejarah yang besar.

Namun, tantangan hari ini tidak lagi sama. Kita sedang bertarung di era disrupsi digital, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), ketidakpastian geopolitik global, hingga krisis iklim.

Untuk menghadapi badai zaman ini, NU tidak bisa lagi sekadar bersandar pada kebesaran angka (kuantitas). Sudah saatnya NU melompat menuju kebesaran kualitas. PBNU periode mendatang harus melahirkan proyek peradaban yang konkret: Mendirikan minimal satu Pesantren Unggulan NU di setiap provinsi di Indonesia.

Gugatan Kuantitas Menuju Kualitas

Secara kultural, lebih dari separuh umat Islam Indonesia terafiliasi dengan NU. Kita punya puluhan ribu lembaga pendidikan, tetapi jujur harus diakui, pusat-pusat pendidikan kita yang mampu bersaing di level internasional masih bisa dihitung dengan jari.

Sebagian pesantren kita masih berkutat pada keterbatasan klasik: sarana prasarana yang belum merata, minimnya laboratorium sains, rendahnya tradisi riset ilmiah, gagap teknologi digital, hingga lemahnya tata kelola pendanaan jangka panjang.

Jika NU ingin memimpin arah bangsa menuju Indonesia Emas 2045, pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang unggul harus diletakkan sebagai prioritas mutlak. Kita butuh lokomotif baru.

Dengan 38 provinsi yang ada saat ini, bayangkan jika berdiri 38 Pesantren Unggulan NU yang dikelola secara profesional dan modern, tanpa kehilangan akar tradisi Ahlussunnah wal Jamaah. Institusi-institusi ini akan menjadi center of excellence (pusat keunggulan) yang mencetak faksi baru generasi santri.

Kurikulum Abad Kedua: Kitab Kuning Plus AI

Ulama masa depan tidak bisa lagi hanya piawai membaca kitab kuning dan teks hukum syariah secara tekstual. Mereka harus mampu merespons realitas dunia yang bergerak super cepat.

Santri keluaran pesantren unggulan ini didesain memiliki kapasitas ganda yang seimbang:

Sisi Spiritual & Tradisi: Menguasai Al-Qur’an, Hadis, Fikih, Ushul Fikih, serta Tasawuf

Sisi Modern & Global: Fasih berbahasa asing (Arab dan Inggris), menguasai literasi data, ekonomi digital, serta memahami isu global seperti politik internasional dan pembangunan berkelanjutan.

Dari rahim pesantren inilah kelak lahir para pemimpin masa depan. Bukan hanya menjadi kiai atau guru agama, tetapi juga dokter, insinyur, diplomat, ahli teknologi, hingga teknokrat yang memiliki karakter santri, berwawasan kebangsaan, dan bersih secara moral.

Kemandirian Ekonomi dan Gerakan Wakaf Produktif

Pesantren unggulan ini juga harus diproyeksikan sebagai episentrum kemandirian ekonomi umat. Pola pendidikannya wajib mengintegrasikan ekosistem bisnis—mulai dari pertanian modern, industri halal, koperasi, hingga inkubator bisnis berbasis teknologi. Kita harus mencetak lulusan yang mampu menciptakan lapangan kerja, bukan sekadar pencari kerja.

Pertanyaannya: Dari mana biayanya?

Membangun 38 pesantren modern jelas butuh dana raksasa. Namun, bagi NU yang memiliki basis massa puluhan juta, hal ini sangat mungkin diwujudkan melalui Gerakan Nasional Wakaf Pendidikan.

NU harus mampu mengonsolidasikan potensi finansial internal: dari para pengusaha Nahdliyin, alumni, filantropi Islam, hingga skema kemitraan strategis yang bersih dengan BUMN dan pemerintah.

Lewat tata kelola wakaf produktif yang akuntabel, pesantren unggulan dapat berdiri tegak secara mandiri tanpa ketergantungan kronis pada bantuan politik pihak luar.

Penutup: Warisan untuk Peradaban

Gedung organisasi yang megah atau dinamika politik kekuasaan mungkin hanya akan diingat dalam hitungan tahun. Namun, lembaga pendidikan yang melahirkan generasi unggul akan terus mengalirkan pahala dan sejarah kebaikan sepanjang zaman.

NU besar karena pesantren. Dan masa depan Indonesia hanya akan menjadi lebih besar jika pesantren-pesantren NU hari ini berani berbenah dan berinvestasi pada kualitas. Selamat bermuktamar ke-35 Nahdlatul Ulama. Mari kita siapkan generasi emas pelopor peradaban dunia.

Pilkada & Pilpres

INSTAGRAM

4 hours ago
5 hours ago
1 day ago
3 days ago
3 days ago
4 days ago

LAINNYA
x
x

mancingduit

situs slot gacor