Pelatih tim nasional Iran, Amir Ghalenoei saat konferensi pers usai laga Iran vs Mesir pertandingan Grub G Piala Dunia 2026. Foto: Pars Today TODAYNEWS.ID – Tim nasional (Timnas) sepak bola Iran harus puas berbagi angka setelah ditahan imbang 1-1 oleh Mesir dalam laga pamungkas Grup G Piala Dunia FIFA 2026, Sabtu (27/6/2026).
Meski mencetak sejarah dengan tidak terkalahkan sepanjang fase grup, rasa frustrasi mendalam justru menyelimuti sang juru taktik, Pelatih Timnas Iran, Amir Ghalenoei.
Usai pertandingan, Ghalenoei meluapkan kekecewaannya terkait hasil laga yang dianggapnya tidak adil, sekaligus mengeluhkan perlakuan buruk yang diterima timnya dari pihak tuan rumah Amerika Serikat (AS).
Ghalenoei menilai anak asuhnya tampil mendominasi dan menciptakan jauh lebih banyak peluang dibanding Mesir.
Salah satu momen krusial yang ia soroti adalah dianulirnya gol Iran oleh Video Assistant Referee (VAR) karena dianggap offside.
“Kami memiliki banyak peluang dan bisa saja menang. Kami kebobolan satu gol dari satu-satunya peluang lawan, sementara kami gagal mencetak gol dari 10 peluang yang ada. Gol kami yang dianulir kata mereka hanya offside 5 sentimeter,” ujar Ghalenoei.
Meski begitu, ia mengaku bangga atas penampilan anak asuhnya saat berlaga melawan Mesir. “Saya bangga dengan negara saya, bangsa saya, dan tim ini. Ini adalah pertandingan yang sangat indah, dan semua orang menikmatinya seperti saya,” ujarnya.
Bagi Iran, keputusan VAR sangar menyakitkan bagi timnya yang sudah tampil baik selama 90 menit di atas lapangan. Meski begitu mendukung Mesir untuk dapat meraih kesuksesan di fase selanjutnya.
“Mesir adalah tim yang sangat besar, dan saya mendoakan kesuksesan mereka. Keadilan sepak bola tidak ditegakkan untuk kami, dengan semua masalah yang kami hadapi,” ucapnya.
Selain faktor di lapangan, Ghalenoei secara terbuka mengkritik kendala non-teknis yang dihadapi timnya selama turnamen.
Ia merasa Iran mendapatkan perlakuan diskriminatif, mulai dari pembatasan waktu kedatangan hingga masalah logistik yang mengganggu persiapan fisik pemain.
“Keadilan telah dirampas dari kami. Jika saja mereka mengizinkan kami datang dua minggu lebih awal, tim tentu bisa beradaptasi. Permintaan standar kami untuk datang dua malam sebelum laga demi pemulihan pun tidak dipenuhi. Karena tuan rumah memperlakukan kami dengan cara yang terburuk,” keluhnya.
Ia juga membandingkan minimnya uji coba berkualitas yang didapatkan Iran akibat situasi tersebut. Sebelum turnamen, Mesir bisa beruji coba melawan tim raksasa seperti Brasil dan Inggris, sementara Iran hanya bisa menghadapi tim muda lokal, Tijuana.
Meski didera berbagai masalah, Ghalenoei mengaku sangat bangga dengan daya juang para pemainnya yang berhasil memikat hati penonton di stadion—bahkan sebagian pendukung Mesir. Terlebih, hasil ini membawa Iran mengukir tinta emas baru.
“Dalam ketiga pertandingan, pemain terbaik selalu berasal dari Iran. Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia, kami tidak terkalahkan di fase grup. Saya pikir kami adalah tim yang terzalimi, sekaligus tidak beruntung,” ungkapnya.
Saat ini, nasib Iran untuk lolos ke babak 16 besar masih harus menunggu hasil pertandingan di grup lain pada hari berikutnya. Kendati kelolosan belum 100% aman, Ghalenoei menegaskan mentalitas timnya sudah sangat siap.
“Kami berharap pada pertandingan besok dan melihat apa yang Tuhan kehendaki. Jika kami lolos ke babak berikutnya, kami siap bermain melawan tim mana pun,” pungkas Ghalenoei.