Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifatul Choiri Fauzi. (Dok. Kemenpppa) TODAYNEWS.ID — Arifatul Choiri Fauzi menjadi sorotan setelah mengusulkan gerbong khusus wanita KRL dipindah ke tengah rangkaian, sementara gerbong ujung depan dan belakang diisi penumpang laki-laki.
Usulan ini disampaikan sebagai respons atas kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur yang menyebabkan sejumlah korban jiwa di gerbong wanita yang berada di bagian ujung rangkaian.
Arifah menilai posisi gerbong di bagian depan dan belakang memiliki risiko lebih tinggi saat terjadi tabrakan, sehingga perlu penataan ulang untuk melindungi kelompok rentan.
“Jadi yang laki-laki di ujung. Yang depan belakang itu laki-laki, jadi yang perempuan di tengah,” ujar Arifah di RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi, Selasa (28/4/2026).
Komentar itu lantas memicu banyak reaksi di media sosial. Profilnya pun dicari oleh warganet, mempertanyakan kenapa ia bisa dipilih menjadi Menteri PPPA.
Ia ditunjuk sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) dalam Kabinet Merah Putih pemerintahan Prabowo Subianto.
Latar belakangnya yang kuat di organisasi keagamaan dan pemberdayaan masyarakat menjadi modal utama dalam menjalankan tugas di pemerintahan.
Pengumuman penunjukan Arifatul dilakukan di Istana Negara, Jakarta, pada 20 Oktober 2024. Ia masuk dalam jajaran kabinet yang dipimpin Presiden Prabowo bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Arifatul dikenal sebagai sosok yang dekat dengan Nahdlatul Ulama. Kiprahnya di organisasi ini sudah dimulai sejak usia muda.
Saat ini, ia menjabat sebagai Sekretaris Umum Pengurus Pusat Muslimat NU. Posisi tersebut menempatkannya dalam peran strategis dalam pemberdayaan perempuan berbasis organisasi keagamaan.
Selain itu, Arifatul juga aktif di Majelis Ulama Indonesia. Ia tergabung dalam Komisi Informasi dan Komunikasi MUI.
Dalam dunia politik, Arifatul pernah menjadi Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Prabowo-Gibran pada Pilpres 2024. Pengalaman ini memperkuat perannya dalam dinamika nasional.
Arifatul lahir di Madura pada 28 Juli 1969. Ia dikenal sebagai figur perempuan yang konsisten dalam isu pemberdayaan masyarakat.
Pendidikan dasar hingga menengah ditempuh di Jakarta. Ia bersekolah di Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah As Syafiiyah Jatiwaringin.
Ia melanjutkan studi di Fakultas Dakwah IAIN Yogyakarta dan lulus pada 1994. Kemudian, ia meraih gelar Magister Komunikasi dari Universitas Indonesia pada 2002 melalui beasiswa Ford Foundation.
Sejak muda, Arifatul aktif berorganisasi. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum IPPNU DIY pada periode 1989 hingga 1991.
Karier organisasinya terus berkembang dengan posisi strategis lain. Ia pernah menjadi Sekjen Fatayat NU dan Sekretaris Pimpinan Pusat Muslimat NU.
Selain itu, ia juga terlibat dalam berbagai gerakan sosial. Salah satunya adalah Gerakan Nasional Anti Korupsi bersama NU dan Muhammadiyah.
Di luar organisasi, Arifatul memiliki pengalaman di dunia media dan seni budaya. Ia pernah menjadi produser program televisi seperti “Syair Dzikir” di TPI dan “Hikmah Pagi” di TVRI.
Ia juga berperan sebagai show manager dalam konser kebangsaan kolaborasi lintas negara. Kegiatan ini melibatkan musisi internasional seperti Tony Blackman dan Mary McBride.
Arifatul turut memimpin tim seni budaya Indonesia dalam tur internasional. Negara tujuan antara lain Qatar, Uni Emirat Arab, dan Belanda.
Dalam bidang bisnis dan sosial, ia menjabat sebagai Direktur di sejumlah perusahaan. Ia juga aktif dalam program pemberdayaan masyarakat desa bersama Muslimat NU dan Kementerian Desa.
Arifatul juga memiliki kontribusi di bidang akademik. Ia menulis buku berjudul “Kabar Kekerasan Dari Bali”.
Dengan latar belakang organisasi, pendidikan, dan pengalaman lintas sektor, Arifatul diharapkan mampu menjalankan tugasnya sebagai Menteri PPPA. Perannya dinilai penting dalam mendorong perlindungan perempuan dan anak di Indonesia.