TODAYNEWS.ID – Pemerintah Kota Bandung terus memperkuat upaya pencegahan penyakit tidak menular melalui sektor pendidikan. Hal ini ditandai dengan sosialisasi Peraturan Wali Kota (Perwal) Nomor 8 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Ekosistem Pangan Sehat di Lingkungan Sekolah yang digelar di Harris & Convention Festival Citylink, Kamis, 23 April 2026.
Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan Kota Bandung, Dirindra menjelaskan, latar belakang lahirnya kebijakan ini tidak lepas dari tingginya angka penyakit tidak menular di masyarakat.
“Penyakit tidak menular ini bukan disebabkan oleh infeksi, tetapi lebih karena pola hidup tidak sehat dan faktor lingkungan. Saat ini menjadi penyebab kematian dan kesakitan terbesar di Indonesia,” ujarnya.
Ia memaparkan, tren penyakit seperti hipertensi, diabetes, stroke, dan penyakit jantung terus meningkat setiap tahun. Di Kota Bandung, pada 2025 tercatat sebanyak 198.980 kasus hipertensi dan 44.218 kasus diabetes melitus.
Menurut Dirindra, tingginya angka tersebut dipicu oleh konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih. Karena itu, Pemkot Bandung tengah menggalakkan program bijak konsumsi gula, garam, dan lemak yang diintegrasikan dengan kebijakan Perwal ini.
“Program ini mencakup penyusunan kebijakan, edukasi ke sekolah, pengawasan keamanan pangan jajanan anak, hingga monitoring dan evaluasi. Harapannya, kita bisa membangun kebiasaan makan sehat sejak dini,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Bandung, Dewi Ira Jani mengingatkan pentingnya intervensi sejak usia sekolah. Menurutnya, perubahan pola penyakit saat ini sudah bergeser, bahkan menyerang usia muda.
“Sekarang tidak harus menunggu usia tua untuk terkena hipertensi, diabetes, atau penyakit jantung. Anak muda pun sudah banyak yang mengalami,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti meningkatnya kasus obesitas pada anak. Berdasarkan data yang dihimpun dari sekolah, jumlah anak dengan berat badan berlebih terus meningkat dan menjadi faktor risiko penyakit di masa depan.
“Kalau ini dibiarkan, anak-anak kita akan lebih mudah terkena penyakit kronis. Padahal mereka adalah generasi produktif menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya.
Dewi menambahkan, sekolah menjadi titik awal strategis dalam membangun kebiasaan hidup sehat. Lingkungan sekolah dinilai paling efektif untuk mengedukasi anak sekaligus mengontrol pola konsumsi mereka.
“Kalau orang dewasa sudah punya kebiasaan, lebih sulit diubah. Tapi anak-anak masih bisa dibentuk. Karena itu kita mulai dari sekolah,” katanya.
Ia menjelaskan, konsep ekosistem pangan sehat tidak hanya menyasar siswa, tetapi juga melibatkan orang tua, guru, hingga pedagang di sekitar sekolah. Semua pihak memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pola makan sehat.
“Ini tidak bisa dilakukan sendiri. Orang tua, sekolah, dan pedagang harus bergerak bersama. Kita ingin anak-anak tetap bisa jajan, tapi dengan pilihan yang lebih sehat dan terkontrol,” jelasnya.
Lebih lanjut, Dewi mengungkapkan, dampak penyakit tidak menular juga berkontribusi terhadap meningkatnya angka disabilitas. Bahkan, sekitar 60 persen kasus disabilitas di Kota Bandung disebabkan oleh penyakit tersebut.
“Misalnya stroke atau diabetes yang menyebabkan gangguan penglihatan dan fungsi tubuh. Ini berdampak pada kualitas hidup, tidak hanya bagi pasien tetapi juga keluarga,” ujarnya.
Ia pun mengingatkan, upaya pencegahan jauh lebih penting dibandingkan pengobatan. Dengan penerapan Perwal ini, diharapkan anak-anak dapat tumbuh menjadi generasi yang sehat, kuat, dan produktif.
“Tujuan kita jelas, jangan sampai Indonesia Emas 2045 berubah menjadi Indonesia cemas. Generasi mudanya harus sehat agar mampu menjadi tulang punggung bangsa,” ucapnya.
Kegiatan ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari perangkat daerah, tenaga kesehatan, kepala sekolah, hingga organisasi profesi. Sosialisasi tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman bersama terkait pentingnya penyediaan pangan sehat bagi anak-anak sebagai investasi jangka panjang. ***