Jet Tempur F-15E Strike Eagle Amerika Serikat TODAYNEWS.ID — Pemerintah Sri Lanka menolak permintaan Amerika Serikat untuk menempatkan dua pesawat tempur di wilayahnya. Keputusan ini diambil untuk menjaga posisi netral di tengah meningkatnya konflik di Timur Tengah.
Presiden Anura Kumara Dissanayake menegaskan bahwa negaranya tidak ingin terlibat dalam konflik. Ia menyampaikan hal tersebut dalam pernyataan di parlemen.
Menurut Dissanayake, penolakan dilakukan agar wilayah Sri Lanka tidak digunakan untuk kepentingan militer. Langkah ini juga untuk memastikan negara tidak berpihak kepada salah satu pihak yang berkonflik.
“Mereka ingin membawa dua pesawat tempur yang dipersenjatai dengan delapan rudal anti-kapal dari pangkalan di Djibouti ke Bandara Internasional Mattala dari tanggal 4 hingga 8 Maret, dan kami mengatakan ‘tidak’,” kata Dissanayake.
Permintaan tersebut diajukan oleh Amerika Serikat pada 26 Februari. Pada hari yang sama, Iran juga mengajukan permintaan terkait aktivitas militernya.
Iran meminta izin untuk tiga kapal perangnya singgah di pelabuhan Kolombo. Kapal tersebut diketahui baru kembali dari latihan angkatan laut di India.
“Kami masih mempertimbangkan permintaan Iran untuk membawa tiga kapal ke Kolombo dari tanggal 9 hingga 13 Maret. Jika kami mengatakan ‘ya’ kepada Iran, kami juga harus mengatakan ‘ya’ kepada AS,” katanya.
Namun, Sri Lanka memilih untuk tidak mengabulkan kedua permintaan tersebut. Pemerintah menegaskan komitmennya untuk mempertahankan netralitas.
“Tetapi kami tidak melakukannya. Kami dengan teguh mempertahankan posisi netral kami,” tambah Dissanayake, yang disambut tepuk tangan parlemen.
Situasi di wilayah tersebut sempat memanas setelah insiden militer terjadi di perairan Sri Lanka. Pasukan AS dilaporkan menembakkan torpedo ke kapal Iran di lepas pantai selatan.
Serangan tersebut mengenai kapal IRIS Dena dan menewaskan sedikitnya 84 pelaut. Angkatan laut Sri Lanka kemudian menyelamatkan 32 orang yang selamat.
Kapal Iran lainnya, IRIS Bushehr, diizinkan memasuki perairan Sri Lanka. Kapal tersebut membawa 219 awak yang kemudian berlindung di Kolombo.
Di tengah situasi tersebut, Sri Lanka tetap menjaga hubungan dengan kedua pihak. Negara ini memiliki hubungan ekonomi dengan Amerika Serikat sebagai pasar ekspor utama dan Iran sebagai pembeli utama teh Sri Lanka.