Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, menghadiri konferensi pers film Na Willa di Epicentrum XXI, Jakarta, Selasa (10/03/2026). (Dok. Kemen Ekraf) TODAYNEWS.ID — Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Irene Umar menghadiri konferensi pers film Na Willa di Epicentrum XXI, Jakarta, Selasa (10/3/2026). Kehadiran film ini dinilai menunjukkan kuatnya potensi cerita lokal dalam industri perfilman Indonesia.
Acara konferensi pers tersebut menjadi momentum memperkenalkan film keluarga yang mengangkat kisah kehidupan anak. Film ini juga dinilai membuka ruang lebih luas bagi karya film anak di perfilman nasional.
Film Na Willa dijadwalkan tayang di bioskop seluruh Indonesia pada 18 Maret 2026. Karya tersebut diproduksi oleh Visinema Studios bersama tim kreator dan pemain yang terlibat dalam proses produksi.
Cerita film ini mengikuti keseharian seorang gadis berusia enam tahun yang tinggal di Surabaya pada dekade 1960-an. Ia tumbuh dalam keluarga multikultural dengan ibu berasal dari Nusa Tenggara Timur dan ayah keturunan Tionghoa.
Melalui sudut pandang seorang anak, film ini menampilkan kisah keluarga dengan suasana hangat. Narasi tersebut juga menonjolkan nilai keberagaman dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kesempatan itu, Irene Umar menyampaikan apresiasi kepada para kreator film. Ia juga memberikan penghargaan kepada para pemain dan seluruh tim produksi yang menghadirkan film anak dengan pesan keluarga yang kuat.
“Film adalah salah satu cara kita memahami dunia, dan seringkali cerita yang paling jujur justru datang dari sudut pandang anak-anak. Melalui Na Willa, kita diajak melihat kembali dunia dengan mata yang lebih terbuka, lebih jujur, dan penuh imajinasi seperti anak-anak,” ujar Irene.
Ia menilai film tersebut menghadirkan gambaran keberagaman yang hidup secara alami di tengah masyarakat Indonesia. Menurutnya, kisah yang diangkat mencerminkan kehidupan keluarga yang saling memahami perbedaan.
“Dalam cerita Na Willa kita melihat kehangatan dalam keberagaman. Perbedaan bukan sesuatu yang rumit, tetapi sesuatu yang hidup secara alami dalam keluarga, dalam percakapan, dan dalam cara saling memahami satu sama lain. Bagi saya, inilah potret Indonesia yang sesungguhnya,” kata Irene.
Dari perspektif ekonomi kreatif, karya seperti Na Willa dinilai menunjukkan potensi ide dan imajinasi para kreator sebagai kekuatan ekonomi. Cerita yang kuat juga dapat berkembang menjadi kekayaan intelektual atau intellectual property (IP).
IP tersebut berpotensi dikembangkan ke berbagai bentuk karya lain. Bentuknya dapat berupa film lanjutan, buku, hingga produk kreatif seperti permainan dan merchandise.
Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia disebut terus mendorong lahirnya karya kreatif berbasis cerita lokal. Upaya ini dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat ekosistem industri kreatif.
Penguatan ekosistem cerita dan pengembangan IP kreatif menjadi bagian dari strategi ekonomi nasional. Pemerintah menempatkan ekonomi kreatif sebagai salah satu mesin pertumbuhan baru atau the new engine of growth bagi Indonesia.
Irene Umar juga menilai film Na Willa berpotensi menjadi pilihan tontonan keluarga Indonesia. Momentum penayangannya dinilai tepat karena mendekati periode libur Lebaran yang identik dengan kebersamaan keluarga.
“Saya berharap Na Willa dapat diterima dengan hangat oleh masyarakat Indonesia, oleh anak-anak maupun keluarga yang ingin merasakan kembali kehangatan dan kebahagiaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Semoga film ini bukan hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi cerita yang tinggal di hati para penontonnya,” ujar Irene.
Kehadiran film Na Willa dinilai menunjukkan bahwa cerita lokal dapat berkembang menjadi karya kreatif yang lebih luas. Film keluarga seperti ini diharapkan tidak hanya menghibur, tetapi juga menghadirkan nilai budaya dalam industri kreatif Indonesia.