Salah satu serangan rudal Iran ke wilayah Israel. Foto: Tasnim TODAYNEWS.ID — Menteri Energi Qatar, Saad al-Kaabi, mengungkapkan bahwa negaranya kehilangan sekitar 17 persen kapasitas ekspor gas alam cair (LNG) setelah serangan rudal Iran menghantam kompleks energi strategis di Ras Laffan.
Fasilitas Ras Laffan Industrial City merupakan pusat produksi LNG terbesar di dunia. Serangan yang terjadi pada Kamis (19/3/2026) itu menyebabkan kerusakan besar pada infrastruktur utama dan mengganggu pasokan energi global.
Menurut Kaabi, dampak kerusakan tidak bersifat jangka pendek. Ia memperkirakan proses pemulihan bisa memakan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.
Gangguan ini dinilai berpotensi meluas ke pasar internasional. Pasalnya, Qatar merupakan salah satu pemasok utama LNG untuk kawasan Eropa dan Asia.
Dalam keterangannya kepada Reuters, Kaabi menyebut nilai kerusakan akibat serangan tersebut mencapai sekitar US$26 miliar. Dampaknya bahkan bisa memengaruhi pengiriman LNG hingga lima tahun ke depan.
Ia menjelaskan bahwa kerusakan paling parah terjadi pada komponen vital dalam proses produksi LNG. Dua dari 14 unit pemrosesan atau “train” mengalami kerusakan serius.
“Kotak pendingin (cold boxes) telah hancur,” ujar Kaabi, merujuk pada sistem utama yang berfungsi mendinginkan gas menjadi cair.
Kerusakan pada komponen tersebut membuat proses produksi tidak bisa berjalan normal. Hal ini memperparah dampak terhadap kapasitas ekspor Qatar dalam jangka panjang.
Selain itu, proyek ekspansi besar di Ras Laffan juga dipastikan tertunda. Padahal, ekspansi tersebut ditargetkan meningkatkan kapasitas produksi Qatar dari 77 juta ton menjadi 126 juta ton per tahun pada 2027.
Penundaan ini berpotensi memengaruhi suplai energi ke sejumlah negara besar seperti Prancis, Jerman, dan China. Negara-negara tersebut selama ini bergantung pada pasokan LNG dari Qatar.
Kaabi menegaskan bahwa dampak serangan ini akan terasa dalam waktu lama. Ia memperkirakan penundaan ekspansi bisa berlangsung setidaknya beberapa bulan, bahkan lebih dari satu tahun.
Dengan kondisi tersebut, pasar energi global menghadapi risiko kenaikan harga yang lebih tinggi. Ketidakpastian pasokan dari salah satu eksportir utama dunia menjadi faktor yang dapat memperparah tekanan terhadap ekonomi global.