x

Rocky Gerung Singgung Hilangnya Etos Republik dalam Kasus Bunuh Diri Bocah 10 tahun di NTT

waktu baca 2 menit
Rabu, 4 Feb 2026 15:16 15 Afrizal Ilmi

TODAYNEWS.ID — Pengamat politik Rocky Gerung melontarkan kritik tajam terhadap arah bernegara Indonesia dengan menyoroti apa yang ia sebut sebagai hilangnya etos republik. Kritik itu ia sampaikan melalaui akun Youtube pribadinya, Selasa (3/2/2026) dengan menghadirkan foto tiga tokoh bangsa, Sutan Sjahrir, Jenderal Sudirman, dan Hoegeng Iman Santoso.

Rocky menilai ketiga tokoh tersebut bukan sekadar figur sejarah, melainkan simbol etos bernegara yang pernah dimiliki republik. Menurutnya, etos itu kini semakin memudar di tengah praktik politik dan kebijakan negara.

Dalam paparannya, Rocky menarik kontras antara rencana iuran Indonesia sebesar USD1 miliar atau sekitar Rp16,7 triliun untuk sebuah dewan perdamaian global. Rencana tersebut dikaitkan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Di sisi lain, Rocky mengangkat kisah seorang bocah berusia 10 tahun di Nusa Tenggara Timur. Bocah itu meninggalkan surat untuk ibunya karena keinginannya memiliki buku seharga Rp10 ribu tak terpenuhi akibat ketiadaan uang.

“Berapa harga buku itu? Rp10 ribu. Itu berapa per mil dari Rp17 triliun yang disumbangkan oleh Prabowo kepada Trump?” kata Rocky. Ia menilai perbandingan tersebut mencerminkan masalah skala moral dalam pengambilan kebijakan negara.

Menurut Rocky, kisah bocah di NTT bukan sekadar cerita kecil. Ia menyebutnya sebagai potret retaknya nurani publik ketika penderitaan dasar warga tak menjadi prioritas.

Rocky menilai negara saat ini lebih sibuk membicarakan angka-angka besar di forum global. Sementara itu, persoalan mendasar yang dirasakan rakyat kecil justru terabaikan.

Ia menyebut kondisi tersebut sebagai tanda melemahnya keberpihakan negara. Bagi Rocky, negara seharusnya hadir untuk merespons kebutuhan paling elementer warganya.

Kritik Rocky kemudian melebar ke sistem politik yang berjalan saat ini. Ia menyebut republik hidup tanpa etika republikanisme dan justru menunjukkan gejala etos kerajaan.

Menurutnya, kekuasaan terasa nyaman, oposisi mencair, dan pertemuan elite politik kerap berakhir tanpa penjelasan yang memadai kepada publik. Ia menilai stabilitas yang ditampilkan hanya berada di permukaan.

Rocky juga menyinggung kecemasan penguasa terhadap kritik dan demonstrasi. Ia menilai pidato normatif tentang keadilan kerap berseberangan dengan praktik di lapangan.

Akumulasi persoalan selama satu dekade, kata Rocky, kini bermuara pada pemerintahan baru. Ia menyebut gejolak pasar, kerusakan lingkungan, dan ketidakadilan sebagai warisan panjang tanpa etos republik.

Institusi kampus pun tak luput dari sorotan Rocky. Ia menilai lembaga akademik yang seharusnya menjaga nilai dan ingatan kolektif justru terseret menjadi perpanjangan kekuasaan.

Di akhir pandangannya, Rocky menegaskan republik bukan sekadar nama atau proyek pembangunan. Ia menyebut republik soal keberpihakan, nilai publik, dan kemampuan negara merasakan persoalan kecil yang menentukan martabat warganya.

 

Pilkada & Pilpres

INSTAGRAM

5 hours ago
1 day ago
2 days ago
4 days ago

LAINNYA
x
x