Momen safari politik Presiden ke-7 RI Jokowi saat menginjak kepala kerbau dalam prosesi penganugerahan gelar kehormatan adat di Kedaton Keagungan Lampung, Sabtu (27/6/2026). Foto: Dok. Warga TODAYNEWS.ID – Prosesi adat injak kepala kerbau yang dilakoni mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat melakukan safari politik di Lampung dinilai murni sebagai penghormatan terhadap tradisi setempat.
Pengamat politik dari Citra Institute, Efriza, mengingatkan agar ritual tersebut tidak digoreng menjadi pesan politik untuk menantang PDI Perjuangan (PDIP) yang identik dengan simbol kepala banteng, karena justru akan menjadi blunder bagi Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
“Ritual injak kepala kerbau di Lampung lebih kepada tradisi adat semata. Jika dianggap pesan politik kepada PDIP, ditengarai malah akan menyulitkan PSI,” kata Efriza kepada TODAYNEWS, Rabu (1/6/2026).
Menurut Efriza, mengaitkan ritual adat tersebut sebagai simbol “perlawanan” atau tantangan kepada partai pimpinan Megawati Soekarnoputri tersebut adalah strategi yang keliru. Terlebih, sebagai partai pemenang pemilu, PDIP dinilai memiliki struktur yang solid.
“Sebab PDIP partai pemenang dan sudah punya struktur yang kuat sehingga jika ditantang maka PDIP akan semakin terkonsolidasi,” ujarnya.
Lebih lanjut, Efriza menilai hubungan Jokowi dan PDIP yang merenggang tidak sepatutnya direfleksikan secara gegabah oleh PSI melalui narasi politik simbolis seperti “injak kerbau”. Apalagi kata Efriza, perbandingan kekuatan politik antara kedua partai dinilai terlampau jauh.
“Jadi, jika PSI mau menantang PDIP, dengan berdasarkan hubungan Jokowi dan PDIP yang telah merenggang, lalu dipantulkan dengan simbol “injak kerbau”, dapat dikatakan malah merugikan bagi PSI karena tidak sebanding partai semenjana menantang partai besar,” kata Efriza.
Lebih jauh, ia pun mewanti-wanti agar interpretasi politik yang provokatif ini tidak terus didengungkan, karena dampaknya justru akan menggerus posisi PSI sendiri di bursa politik nasional.
“Jadi, jika ritual itu dianggap simbol tantangan terhadap PDIP lebih merupakan kesalahan menantang lawan, interpretasi politik seperti ini malah merugikan bagi PSI jika didengungkan,” pungkasnya.