Belasan pemuka agama mendatangi Gedung Putih untuk mendoakan Presiden Donald Trump secara langsung pada Kamis (5/3/2026) waktu setempat. (X/@scavino47) TODAYNEWS.ID — Belasan pemuka agama mendatangi Gedung Putih untuk mendoakan Presiden Donald Trump secara langsung pada Kamis (5/3/2026) waktu setempat. Momen tersebut terjadi ketika Amerika Serikat masih terlibat konflik militer dengan Iran bersama Israel.
Doa bersama itu berlangsung di Oval Office, ruang kerja presiden di Gedung Putih. Sekitar 20 pemuka agama terlihat mengelilingi Trump yang duduk di belakang mejanya.
Momen tersebut dibagikan oleh Asisten Presiden sekaligus Wakil Kepala Staf Gedung Putih Dan Scavino melalui akun media sosialnya. Ia mengunggah video yang memperlihatkan para pemuka agama berkumpul mengitari presiden.
Dalam video itu, para pemuka agama meletakkan tangan mereka di pundak Trump sambil membacakan doa. Trump terlihat menundukkan kepala, memejamkan mata, dan menangkupkan tangannya di atas meja.
Scavino menyertakan keterangan singkat dalam unggahan tersebut. “Sedang terjadi saat ini di Oval Office di Gedung Putih. Tuhan memberkati USA!,” tulisnya.
Salah satu pemuka agama kemudian memimpin doa bagi Trump dan Amerika Serikat. Ia memohon perlindungan Tuhan bagi presiden serta para prajurit yang bertugas.
“Saya berdoa agar Engkau memberikan rahmat dan perlindungan-Mu kepadanya. Saya berdoa agar Engkau juga memberikan rahmat dan perlindungan-Mu kepada pasukan kami serta seluruh pria dan wanita yang bertugas dalam angkatan bersenjata kami,” ujar pemuka agama tersebut.
Ia juga mendoakan agar Trump diberi kekuatan dalam memimpin negara. Doa itu dipanjatkan di tengah situasi perang yang sedang berlangsung.
Doa bersama ini terjadi ketika Amerika Serikat dan Iran masih terlibat konflik bersenjata. Ketegangan meningkat setelah kedua negara saling melancarkan serangan militer.
Saat ini pemerintah AS masih menghadapi ancaman serangan balasan dari Iran. Ancaman tersebut menyasar berbagai aset militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Konflik memanas sejak serangan awal yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke Teheran pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut menjadi titik awal eskalasi militer antara kedua pihak.
Serangan gabungan itu dilaporkan menewaskan sejumlah petinggi Iran. Salah satunya adalah Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Di tengah situasi tersebut, pemerintahan Trump juga meminta dukungan negara-negara sekutu. Washington berupaya memperkuat operasi militer sekaligus menghadapi kemungkinan serangan balasan dari Iran.