Daihatsu Indonesia Masters 2026 akan kembali digelar pada 20–25 Januari 2026 di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta. (Dok. PBSI) TODAYNEWS.ID — Kabid Luar Negeri PBSI, Bambang Roedyanto, menyampaikan bahwa penerapan format baru Indonesia Open berdurasi 11 hari merupakan bagian dari komitmen Indonesia mendukung arah pengembangan bulutangkis dunia. Turnamen ini akan berstatus Super 1000 sesuai kebijakan terbaru Badminton World Federation (BWF).
Bambang menegaskan Indonesia Open mengikuti kebijakan global yang telah dicanangkan BWF. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga posisi Indonesia sebagai salah satu tuan rumah utama bulutangkis dunia.
Ia mengakui perubahan durasi turnamen berdampak langsung pada aspek penyelenggaraan. “Dari sisi penyelenggara, penerapan durasi 11 hari tentu berdampak pada meningkatnya biaya operasional karena waktu pelaksanaan yang lebih panjang,” ujar Bambang.
Meski demikian, PBSI memandang kebijakan tersebut sebagai langkah strategis. “Namun PBSI memandang hal ini sebagai investasi jangka panjang untuk mempertahankan posisi Indonesia Open sebagai turnamen premier dunia,” katanya.
Bambang menambahkan, standar penyelenggaraan Indonesia Open juga harus selaras dengan kebijakan global. Upaya ini dilakukan agar Indonesia Open tetap relevan dalam struktur kompetisi BWF.
Dari sisi atlet, format baru dinilai memberikan nilai tambah yang signifikan. Jumlah peserta nomor tunggal akan mengalami peningkatan.
“Jumlah peserta nomor tunggal bertambah dari 32 menjadi 48 pemain, sehingga membuka peluang yang lebih luas bagi atlet untuk tampil di level tertinggi,” jelas Bambang. Kebijakan ini memungkinkan lebih banyak pemain bersaing di turnamen elite.
Selain itu, sistem pertandingan juga mengalami penyesuaian. Atlet akan menjalani format setengah kompetisi sebelum melaju ke babak 16 besar.
“Atlet juga akan menjalani lebih banyak pertandingan karena menggunakan sistem setengah kompetisi hingga lolos ke babak 16 besar,” ujar Bambang. Format ini diharapkan meningkatkan kualitas persaingan.
Aspek kondisi bertanding menjadi perhatian utama dalam perubahan format ini. Durasi turnamen yang lebih panjang dinilai memberi keuntungan bagi atlet.
“Dengan durasi turnamen yang lebih panjang serta hanya mengunakan dua lapangan pertandingan, atlet memiliki waktu istirahat yang lebih memadai,” kata Bambang. Waktu pemulihan tersebut diharapkan menjaga performa atlet.
Ia menilai kualitas permainan dapat terjaga sepanjang turnamen. “Hal ini diharapkan dapat menjaga kualitas permainan dan performa atlet sepanjang turnamen,” tambahnya.
Selain aspek teknis, Indonesia Open juga akan dikemas dengan pendekatan sportainment. Konsep ini dirancang untuk meningkatkan pengalaman penonton.
“Dengan durasi yang lebih panjang, penyelenggaraan Indonesia Open memungkinkan hadirnya berbagai elemen hiburan dan aktivasi di luar lapangan pertandingan,” ungkap Bambang. Aktivasi ini ditujukan bagi penonton langsung maupun penggemar daring.
Bambang menyebut sportainment sebagai elemen penting dalam turnamen modern. “Sportainment menjadi bagian penting untuk menghadirkan pengalaman menonton yang lebih menarik,” ujarnya.
PBSI menilai penguatan sportainment sejalan dengan peningkatan kualitas kompetisi. Langkah ini diharapkan memperkuat daya tarik Indonesia Open sekaligus mendukung upaya BWF memperluas popularitas bulutangkis secara global.