Wakil Presiden (Wapres) RI ke-10 dan 12 Jusuf Kalla. Foto: Dok. Pribadi/Repro TODAYNEWS.ID — Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla menyoroti posisi diplomasi Indonesia di tengah dinamika geopolitik global yang semakin memanas. Ia menilai pemerintah perlu berhati-hati dalam menjaga keseimbangan hubungan dengan negara-negara besar, khususnya Amerika Serikat.
Jusuf Kalla menilai keseimbangan hubungan internasional penting agar Indonesia tidak kehilangan ruang diplomasi. Hal tersebut dinilai krusial ketika negara berupaya berperan dalam konflik internasional.
Ia mengingatkan bahwa dalam sejumlah kerja sama internasional, posisi Indonesia terkadang tidak sepenuhnya seimbang. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kemampuan Indonesia untuk tampil sebagai mediator yang netral.
“Kalau hubungan atau perjanjian kita tidak seimbang, tentu sulit bagi kita untuk berada dalam posisi yang benar-benar netral,” ujar Jusuf Kalla saat menanggapi situasi geopolitik yang berkembang, mengutip dari Instagram, Kamis (5/3/2026)
Pernyataan tersebut disampaikan JK ketika menanggapi dinamika konflik internasional yang sedang berlangsung. Salah satu yang disorot adalah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Menurut JK, sejak awal Indonesia dikenal memiliki kekuatan diplomasi yang khas. Hal itu tercermin dari prinsip politik luar negeri bebas dan aktif yang telah lama menjadi landasan kebijakan luar negeri.
Ia menjelaskan bahwa prinsip tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara yang tidak berpihak pada blok kekuatan tertentu. Namun pada saat yang sama, Indonesia tetap aktif berkontribusi dalam upaya menciptakan perdamaian dunia.
Dalam praktiknya, JK menilai kondisi global tidak selalu memberi ruang yang leluasa bagi negara berkembang. Berbagai kepentingan strategis dan ekonomi global kerap memengaruhi posisi diplomasi suatu negara.
Situasi tersebut membuat negara seperti Indonesia harus cermat dalam mengambil sikap. Keputusan diplomatik perlu mempertimbangkan berbagai kepentingan tanpa mengorbankan prinsip utama politik luar negeri.
JK juga menekankan pentingnya menjaga kemandirian diplomasi nasional. Menurutnya, kemandirian itu akan menentukan kredibilitas Indonesia di mata komunitas internasional.
Ia menilai kredibilitas menjadi faktor penting ketika Indonesia berbicara di forum internasional. Hal itu juga berpengaruh ketika Indonesia mencoba mengambil peran sebagai penengah konflik antarnegara.
Pernyataan JK kembali memunculkan diskusi publik mengenai arah politik luar negeri Indonesia. Perdebatan tersebut muncul seiring meningkatnya rivalitas antara kekuatan besar dunia.
Sejumlah pengamat menilai konsistensi terhadap prinsip politik luar negeri bebas aktif menjadi kunci. Prinsip tersebut dinilai penting agar Indonesia tetap memiliki ruang diplomasi yang luas di tengah dinamika geopolitik global.