Peluncuran rudal-rudal Iran dalam gelombang serangan ke-34 pada Operasi True Promise 4, Selasa 10 Maret 2026. TODAYNEWS.ID — Militer Iran mengumumkan telah melancarkan serangan drone terhadap sejumlah target militer di Israel pada Kamis (12/3/2026) malam. Serangan itu diklaim menyasar dua pangkalan militer serta markas besar dinas intelijen domestik Israel.
Dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah Iran, militer menyebut serangan tersebut menargetkan pangkalan udara dan fasilitas intelijen Israel. Aksi itu terjadi ketika konflik Iran melawan Israel dan Amerika Serikat mendekati minggu ketiga.
“Pangkalan Udara Palmachim dan Ovda dari rezim Zionis serta markas besar Shin Bet menjadi sasaran drone dari tentara Republik Islam Iran,” kata militer Iran dalam pernyataan yang disiarkan Kamis malam.
Target yang disebutkan Iran meliputi Palmachim Airbase dan Ovda Airbase. Selain itu, markas badan keamanan domestik Shin Bet juga diklaim menjadi sasaran.
Hingga kini, pihak Israel belum memberikan komentar resmi terkait klaim serangan drone tersebut. Namun sebelumnya militer Israel mengaku mendeteksi peluncuran rudal tambahan dari Iran menuju wilayahnya.
Sirene peringatan serangan udara dilaporkan berbunyi di Yerusalem. Ledakan juga terdengar di kota tersebut saat sistem pertahanan Israel berupaya mencegat rudal yang datang.
Pada malam sebelumnya, peluncuran rudal dari Iran dan kelompok Hizbullah juga memicu kepanikan warga. Penduduk di sejumlah wilayah Israel bergegas menuju tempat perlindungan.
Situasi serupa terjadi di beberapa kota lain termasuk Tel Aviv serta wilayah perbatasan utara Israel yang berbatasan dengan Lebanon. Serangan tersebut menambah ketegangan yang terus meningkat dalam konflik kawasan.
Di sisi lain, Israel mengumumkan telah melancarkan serangan udara berskala besar ke berbagai wilayah Iran pada hari yang sama. Serangan itu menjadi bagian dari eskalasi konflik antara kedua negara.
Menurut pejabat Israel, setidaknya 13 orang telah tewas dan hampir 2.000 lainnya terluka sejak perang dimulai pada 28 Februari. Korban tersebut tercatat sejak konflik meningkat secara terbuka antara kedua pihak.
Memasuki Jumat (13/3/2028), perang disebut telah berlangsung selama 14 hari tanpa tanda-tanda mereda. Hal itu terjadi meskipun Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa serangan AS secara praktis telah mengalahkan Iran.
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan negaranya tetap berkomitmen pada perdamaian kawasan. Namun ia menegaskan konflik hanya dapat berakhir jika hak-hak Iran diakui.
Dalam unggahan di platform X, Pezeshkian mengatakan dirinya telah berbicara dengan para pemimpin Rusia dan Pakistan. Ia menilai konflik dipicu oleh tindakan Israel dan Amerika Serikat.
Ia juga menyebut tiga syarat yang harus dipenuhi agar Iran menghentikan perang. Syarat tersebut meliputi pengakuan atas hak-hak Iran, pembayaran ganti rugi, serta jaminan internasional agar serangan terhadap Iran tidak terjadi lagi.
Sejauh ini belum ada tanggapan resmi dari Washington terkait syarat yang disampaikan Iran tersebut. Upaya diplomatik disebut terus berlangsung untuk meredakan konflik.
Wakil Menteri Kesehatan Iran Ali Jafarian mengatakan serangan udara AS dan Israel telah merusak sejumlah fasilitas kesehatan. Ia menyebut rumah sakit di berbagai wilayah Iran mengalami kerusakan akibat pengeboman.
“Sayangnya, ada banyak korban yang tewas di tempat kejadian karena [AS dan Israel] melakukan pengeboman besar-besaran [terhadap] infrastruktur sipil,” kata Jafarian kepada Al Jazeera.
Menurutnya, tim medis saat ini menangani semakin banyak korban, termasuk warga sipil. Ia juga menyebut banyak orang terjebak di bawah bangunan yang runtuh akibat serangan.
Jafarian menambahkan setidaknya 1.395 orang telah tewas akibat serangan tersebut. Ia juga menyebut sebanyak 31 fasilitas klinis dan rumah sakit utama mengalami kerusakan.
“Kami memiliki 31 fasilitas klinis dan rumah sakit utama yang rusak. Dua belas dari rumah sakit tersebut saat ini tidak beroperasi,” ujarnya.
Laporan Al Jazeera juga menyebut sekolah serta infrastruktur energi dan air menjadi target serangan. Kondisi tersebut menambah tekanan pada fasilitas publik di Iran.
Sementara itu, juru bicara Palang Merah Iran mengatakan hampir 20.000 bangunan sipil terdampak sejak perang dimulai. Dari jumlah tersebut, setidaknya 16.000 merupakan unit hunian warga.