Militer Amerika Serikat (AS). Sumber: Pars Today TODAYNEWS.ID — Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memperingatkan Amerika Serikat agar tidak menguji tekad negaranya. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Ghalibaf menegaskan Iran siap membela wilayahnya dari potensi ancaman. Ia menyampaikan peringatan tersebut melalui pernyataan publik yang bernada tegas.
Sebelumnya, pejabat Gedung Putih disebut melihat Ghalibaf sebagai sosok yang bisa diajak bernegosiasi. Ia bahkan dinilai sebagai mitra potensial bagi Donald Trump di masa depan.
Laporan media menyebut pemerintah AS mempertimbangkan peran strategis Ghalibaf. Sosoknya dipandang memiliki peluang dalam dinamika politik Iran ke depan.
Namun, pernyataan terbaru Ghalibaf menunjukkan sikap yang berbeda. Ia menanggapi laporan rencana penguatan militer AS di kawasan.
“Kami memantau secara ketat semua pergerakan AS di kawasan, terutama penempatan pasukan. Apa yang telah dirusak para jenderal, tidak bisa diperbaiki oleh para tentara; malah, mereka akan menjadi korban delusi (Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu),” ujar Ghalibaf.
Ia juga menyampaikan peringatan langsung kepada Washington. “Jangan uji tekad kami untuk membela tanah kami,” tambahnya.
Pernyataan tersebut muncul setelah laporan terkait pengiriman pasukan tambahan AS. Langkah ini dinilai dapat meningkatkan eskalasi konflik di kawasan.
Pentagon disebut akan mengirim ribuan personel ke Timur Tengah. Informasi ini diperoleh dari sumber yang mengetahui rencana tersebut.
Pasukan yang disiapkan berasal dari Divisi Lintas Udara ke-82. Unit ini dikenal sebagai salah satu pasukan elite militer Amerika Serikat.
Divisi tersebut memiliki kemampuan mobilisasi cepat. Mereka dapat dikerahkan dalam waktu sekitar 18 jam setelah menerima perintah.
Sekitar 1.000 tentara direncanakan dikirim dalam waktu dekat. Penempatan ini menjadi bagian dari penguatan militer di kawasan.
Kontingen tersebut mencakup komandan divisi dan staf utama. Selain itu, satu batalion tim tempur brigade juga akan diterjunkan.
Unit tersebut berfungsi sebagai Pasukan Respons Cepat atau Immediate Response Force. Mereka memiliki kemampuan merespons situasi darurat dalam waktu singkat.
Langkah militer ini terjadi di tengah upaya diplomasi yang masih berlangsung. Pemerintahan Trump disebut tetap membuka ruang pembicaraan dengan Iran.
Namun, dinamika di lapangan menunjukkan ketegangan belum mereda. Peringatan dari Ghalibaf mencerminkan sikap keras Iran terhadap potensi intervensi militer.