Laporan: Dhanis
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Chusnunia. Foto: Istimewa TODAYNEWS.ID – Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Chusnunia, mendorong kota-kota di Indonesia mengembangkan potensi urban tourism atau wisata perkotaan sebagai alternatif penggerak ekonomi daerah.
Menurut perempuan yang akrab disapa Nunik itu, tidak semua daerah memiliki keunggulan berupa panorama alam. Namun, keterbatasan tersebut tidak seharusnya menjadi penghalang bagi daerah untuk mengembangkan sektor pariwisata.
Ia menilai, wisata perkotaan dapat menjadi alternatif yang menjanjikan melalui pengembangan potensi sejarah, budaya, kuliner, seni, hingga aktivitas bisnis.
“Urban tourism di Indonesia mencakup berbagai aktivitas di lingkungan kota, seperti wisata sejarah, budaya, belanja, kuliner, seni, hingga MICE (Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions),” ujar Nunik dalam keterangan yang diterima, Jumat (16/10/2026).
Ia mencontohkan Kota Bandar Lampung dan Metro di Provinsi Lampung yang memiliki potensi untuk mengembangkan wisata perkotaan. Kedua kota tersebut dinilai memiliki daya tarik berupa sejarah, warisan budaya, dan kuliner yang dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata.
“Seperti di daerah asal saya, Lampung, Kota Bandar Lampung dan Metro memiliki potensi untuk mengembangkan urban tourism. Sejarah, heritage, hingga kuliner tersedia dan menjadi daya tarik tersendiri,” katanya.
Meski demikian, Nunik menekankan bahwa pengembangan wisata perkotaan membutuhkan perencanaan yang terintegrasi. Pemerintah pusat juga dinilai memiliki peran penting dalam merumuskan kebijakan serta mendorong sinergi antardaerah.
Menurut dia, kolaborasi yang kuat dan perencanaan yang terarah diperlukan agar pengembangan wisata perkotaan tidak berjalan secara parsial.
Dengan dukungan tersebut, wisata perkotaan diharapkan mampu menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi daerah sekaligus meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia.
Nunik mengatakan, Indonesia dapat mempelajari pengembangan wisata perkotaan di sejumlah kota dunia, seperti New York, London, Tokyo, Paris, dan Dubai.
Kota-kota tersebut memiliki beragam daya tarik wisata, mulai dari bangunan bersejarah, pusat perbelanjaan, kawasan perdagangan dan bisnis, hingga destinasi kuliner, konser, pameran seni, dan pusat hiburan.
Menurut Nunik, daya tarik wisata menjadi salah satu aspek yang dapat digunakan untuk menilai daya saing sebuah kota di tingkat global.
Penilaian tersebut juga berkaitan dengan kualitas infrastruktur, konektivitas, peran sektor bisnis, keberlanjutan, serta kontribusi kebudayaan.
Karena itu, ia berharap kota-kota di Indonesia dapat mengoptimalkan karakter dan keunggulan masing-masing untuk mengembangkan wisata perkotaan yang kompetitif.
Pengembangan tersebut tidak hanya ditujukan untuk menarik kunjungan wisatawan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat dan pelaku usaha lokal.
Editor: Azis Arriadh