Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Foto: Getty Images TODAYNEWS.ID — Dewan Perwakilan Rakyat United States House of Representatives menolak resolusi yang bertujuan menghentikan perang terhadap Iran. Keputusan tersebut membuat upaya membatasi kewenangan Presiden Donald Trump dalam melanjutkan operasi militer di kawasan Timur Tengah gagal dilakukan.
Penolakan resolusi terjadi setelah pemungutan suara menghasilkan angka 219 berbanding 212. Mayoritas anggota parlemen dari Partai Republik yang menguasai kursi DPR memilih menolak usulan tersebut.
Pemungutan suara ini berlangsung setelah langkah serupa juga gagal di kamar legislatif lain. Dua hari sebelumnya, Senat Amerika Serikat telah menolak rancangan undang-undang yang bertujuan membatasi kewenangan presiden dalam konflik tersebut.
Kegagalan resolusi di DPR membuat kebijakan militer pemerintah AS terhadap Iran tetap berjalan. Dengan demikian, Gedung Putih masih memiliki ruang untuk melanjutkan operasi militer di kawasan tersebut.
Dilansir Al Jazeera, anggota Partai Republik Brian Mast menyampaikan dukungannya kepada Trump. Ia bahkan mengucapkan terima kasih kepada presiden atas langkah tegas yang diambil terhadap Iran.
Mast menilai kebijakan tersebut diperlukan karena Iran dianggap mengancam keselamatan warga Amerika. Dukungan dari anggota Partai Republik menjadi faktor penting dalam hasil pemungutan suara di DPR.
Di sisi lain, sejumlah anggota parlemen dari oposisi menyuarakan kritik terhadap kebijakan militer tersebut. Mereka menilai keputusan untuk berperang seharusnya dibahas secara terbuka di Kongres.
Anggota DPR dari Partai Demokrat, Gregory Meeks, menegaskan presiden tidak bisa bertindak sepihak dalam urusan perang. Ia meminta Trump menjelaskan secara langsung alasan kebijakan tersebut kepada Kongres.
“Donald Trump bukanlah seorang raja, dan jika dia percaya bahwa perang dengan Iran adalah demi kepentingan nasional kita, maka dia harus datang ke Kongres dan menyampaikan alasannya,” kata Meeks, dikutip dari Al Jazeera pada Jumat (6/3/2026).
Sementara itu, pejabat pemerintahan Trump berupaya meyakinkan anggota parlemen mengenai operasi militer yang telah dilakukan. Mereka menyatakan serangan yang berlangsung pada Sabtu (28/2/2026) berada dalam kendali.
Meski demikian, konflik tersebut tetap menimbulkan korban jiwa. Dalam operasi itu, enam anggota militer Amerika Serikat dilaporkan tewas.
Serangan rudal yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel juga memicu korban besar di Iran. Salah satu insiden terjadi ketika rudal menghantam dua sekolah dasar di Minab, provinsi Hormozgan, yang menewaskan puluhan orang.
Situasi konflik turut berdampak pada jalur perdagangan energi global. Iran kemudian menutup Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur penting perdagangan minyak dunia.
Selain itu, wilayah udara Iran juga ditutup untuk penerbangan internasional. Maskapai penerbangan harus menyesuaikan rute perjalanan akibat perubahan jalur lalu lintas udara tersebut.
Di tengah situasi ini, Iran menyatakan telah melancarkan serangan balasan secara besar-besaran. Teheran menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat dan Israel menggunakan rudal serta drone.
Serangan balasan tersebut memicu peningkatan kewaspadaan di kawasan. Negara-negara Teluk dilaporkan memperketat keamanan menyusul eskalasi konflik yang terus berkembang.