Caption: Direktur Eksekutif Sentral Politika Subiran Paridamos. Foto: Dok Pribadi Oleh: Subiran Paridamos, Direktur Eksekutif Sentral Politika
Beberapa waktu lalu seseorang bertanya kepada saya, “Dalam konflik ini Anda berada di pihak mana?” Pertanyaan itu muncul setelah kabar syahidnya pemimpin tertinggi Iran (Rahbar), Ayatollah Sayyid Ali Khamenei. Di tengah duka tersebut, sebagian kalangan justru kembali menghidupkan narasi lama bahwa Syiah bukan bagian dari Islam, sehingga tidak perlu dibela.
Saya memahami mengapa pertanyaan seperti itu muncul. Dalam banyak diskursus di dunia Islam, solidaritas sering kali masih diukur berdasarkan kesamaan mazhab. Seolah-olah keberpihakan terhadap suatu bangsa yang menghadapi penjajahan, agresi, dan imperialisme harus terlebih dahulu melewati uji identitas teologis. Namun bagi saya, persoalan ini tidak sesederhana itu.
Jauh sebelum era media sosial seperti sekarang, ketika saya baru memasuki dunia kampus dan mulai mengenal Revolusi Islam Iran, di kamar kos sederhana saya sudah terpajang foto Ali bin Abi Talib, Ruhollah Khomeini, dan Sayyid Ali Khamenei. Di dinding kamar yang sama juga tergantung foto Sukarno, Fidel Castro, Che Guevara, hingga Nelson Mandela.
Bagi saya, mereka semua adalah inspirator perjuangan melawan imperialisme dan kolonialisme. Mereka berasal dari latar belakang ideologi, tradisi politik, dan pemikiran yang berbeda. Namun ada satu benang merah yang menyatukan mereka: perlawanan terhadap penindasan dan ketidakadilan.
Di mata saya, keberanian melawan dominasi kekuatan besar adalah nilai universal yang melampaui batas agama, mazhab, maupun ideologi.
Semasa kuliah, saya cukup sering menulis tentang Iran dan dinamika politik Timur Tengah. Beberapa tulisan tersebut bahkan pernah mengantarkan saya berdiskusi dengan Duta Besar Iran di Jakarta mengenai berbagai isu strategis, mulai dari program nuklir Iran hingga konsep pemerintahan Wilayat al-Faqih.
Namun ironisnya, di lingkungan kampus yang seharusnya menjunjung tinggi kebebasan akademik dan argumentasi ilmiah, keterbukaan terhadap perbedaan pandangan tidak selalu diterima dengan baik.
Saya pernah dituduh sebagai komunis hanya karena sering mengutip tokoh-tokoh kiri. Saya juga pernah dituduh Syiah hanya karena menyampaikan pandangan Imam Khomeini, Sayyid Ali Khamenei, atau Mahmoud Ahmadinejad, serta mengapresiasi konsistensi mereka dalam menghadapi Amerika Serikat dan Israel.
Bahkan saya pernah dilabeli sesat oleh sebagian pihak baik dosen maupun sesama mahasiswa hanya karena mencoba memahami Syiah dan Iran secara akademik dan logika ilmiah.
Tidak sedikit teman mahasiswa ketika itu yang diprovokasi agar menjauh. Bahkan calon istri saya pada masa itu pernah diperingatkan agar tidak terlalu dekat dengan saya dengan alasan yang sama. Pengalaman tersebut mengajarkan satu hal penting: sering kali perbedaan pandangan tidak diperlakukan sebagai ruang dialog, melainkan dijadikan alasan untuk mengucilkan seseorang.
Alih-alih terjebak dalam perdebatan emosional tanpa dasar ilmiah, saya memilih menjadikan Revolusi Islam Iran khususnya konsep Wilayat al-Faqih sebagai topik penelitian skripsi agar pandangan saya memiliki legitimasi akademik dan pertanggungjawaban ilmiah. Alhamdulillah, saya menyelesaikan studi dengan predikat pujian.
Puluhan tahun telah berlalu. Namun foto Ali Khamenei masih tetap terpajang di ruang kerja saya di rumah. Pada 28 Februari 2026, saya menerima kabar yang sangat mengguncang: beliau syahid akibat serangan gabungan militer Amerika Serikat dan Israel yang menargetkan kediamannya di Teheran.
Beliau sebenarnya bisa saja bersembunyi di bunker atau tempat aman lainnya. Namun ia memilih tetap beraktivitas seperti biasa. Tidak ada sedikit pun ketakutan yang terlihat. Padahal secara historis beliau telah beberapa kali menjadi target teror pembunuhan selama puluhan tahun, bahkan pernah mengalami cedera permanen pada tangan kanannya.
Menurut pengakuan para pejabat Iran, beliau sempat ditawari untuk berlindung di bunker. Namun jawabannya sangat sederhana: beliau bersedia masuk bunker jika terlebih dahulu 90 juta rakyat Iran dievakuasi. Di situlah terlihat komitmen dan jiwa kepemimpinan yang selalu menempatkan rakyat di atas keselamatan pribadi.
Sejak hari itu, setiap kali membuka media sosial, air mata hampir tidak pernah berhenti mengalir. Dalam hati saya bahkan sempat berkata: “Belum pernah patah hati seperti ini.”
Mungkin bagi sebagian orang beliau hanyalah tokoh politik. Namun bagi banyak orang lain, beliau adalah simbol keteguhan, keberanian, dan harga diri sebuah bangsa. Saya selalu memiliki mimpi sederhana: suatu hari bisa bertemu beliau.
Minimal melihatnya dari dekat. Jika Allah berkenan, mungkin bisa mencium tangannya sebagai bentuk penghormatan. Namun takdir berkata lain.
Satu hal yang sering membuat saya heran adalah mengapa Iran begitu mudah diserang secara naratif hanya karena isu mazhab. Padahal jika kita melihat fakta geopolitik secara jujur, Iran adalah salah satu negara yang paling konsisten membela Palestina.
Dalam konstitusi Iran bahkan terdapat komitmen khusus terhadap kemerdekaan Palestina. Itu bukan sekadar pidato. Iran memberikan dukungan nyata bagi perjuangan Palestina: mulai dari dukungan diplomatik, bantuan logistik, hingga dukungan militer kepada kelompok perlawanan.
Sementara pada saat yang sama, sebagian negara Muslim justru menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat yang secara terbuka melindungi Israel. Inilah paradoks besar dunia Islam hari ini. Sejak Revolusi Islam 1979, Iran juga menghadapi embargo ekonomi, politik, dan militer yang sangat panjang dari Amerika Serikat dan sekutunya. Embargo itu berlangsung puluhan tahun.
Namun yang terjadi justru sebaliknya: Iran tidak runtuh. Iran tidak menyerah. Sebaliknya, mereka membangun kemandirian nasional. Hari ini Iran mampu memproduksi alutsista sendiri, mengembangkan industri pertahanan mandiri, membangun teknologi nuklir sipil, mengembangkan teknologi satelit dan roket, serta memperkuat sistem pendidikan dan riset ilmiah.
Ini adalah contoh nyata bagaimana sebuah bangsa memilih berdiri tegak daripada hidup di bawah tekanan kekuatan asing.
Dalam banyak pidatonya, Syahid Sayyid Ali Khamenei selalu menegaskan bahwa Iran membela Palestina bukan karena Syiah atau Sunni, melainkan karena Islam.
Jika kita jujur melihat fakta, Palestina adalah wilayah dengan mayoritas Muslim Sunni. Iran adalah negara dengan mayoritas Syiah. Namun dalam praktik geopolitik, Iran justru menjadi aktor yang paling konsisten mendukung perjuangan Palestina.
Syahid Ali Khamenei berulang kali menyerukan persatuan umat Islam. Ia memahami bahwa perpecahan adalah senjata paling ampuh bagi kekuatan imperialisme untuk menaklukkan dunia Islam.
Jika umat Islam terus bertengkar soal mazhab, maka mereka akan terus lemah secara geopolitik. Padahal yang dibutuhkan dunia Islam hari ini bukanlah saling menyesatkan, melainkan solidaritas dan persatuan.
Bagi saya, mendukung suatu bangsa yang menghadapi agresi bukanlah persoalan mazhab. Ini adalah persoalan keadilan. Ini adalah persoalan kemanusiaan. Apalagi dalam Pembukaan UUD 1945 secara tegas disebutkan bahwa Indonesia ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Jika suatu bangsa berdiri melawan penindasan, maka solidaritas moral tidak seharusnya ditentukan oleh perbedaan identitas ideologis.
Bahkan jika suatu hari ada kelompok yang sangat berbeda dengan kita secara teologis entah Wahabi, Syiah, bahkan komunisme sekalipun tetapi mereka berdiri membela kemerdekaan Palestina, maka secara moral kita tetap harus mendukungnya. Karena yang dipertaruhkan bukan sekadar identitas. Yang dipertaruhkan adalah martabat kemanusiaan.
Pada akhirnya sejarah selalu memiliki caranya sendiri untuk menilai manusia. Sejarah tidak terlalu peduli siapa yang paling keras berdebat tentang mazhab.
Sejarah tidak mencatat siapa yang paling rajin menuduh orang lain sesat. Sejarah hanya mencatat satu hal: siapa yang berdiri di pihak keadilan ketika dunia dipenuhi ketidakadilan.
Karena itu pertanyaan sebenarnya bukan lagi apakah Iran perlu dibela. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: Apakah kita masih memiliki keberanian untuk membela keadilan ketika perbedaan identitas mencoba memecah kita? Sebab di atas semua mazhab, ideologi, dan kepentingan politik, ada satu nilai yang seharusnya tetap kita jaga bersama yakni kemanusiaan.
Menjelang akhir hayatnya, Syahid Sayyid Ali Khamenei menyampaikan kata-kata yang kini terasa seperti pesan terakhir tidak hanya kepada bangsanya tetapi juga kepada seluruh umat Islam dan para pejuang keadilan di seluruh dunia.
Kata-kata itu bukan sekadar pidato politik. Ia lahir dari pengalaman panjang sebuah bangsa yang puluhan tahun hidup di bawah tekanan, embargo, ancaman perang, dan berbagai upaya penaklukan.
Dengan suara yang tenang, teduh namun penuh keyakinan dan wibawa, beliau berkata “Anda tidak bisa menakuti kami dengan kelaparan, karena kami dari Ramadan. Anda tidak bisa menakuti kami dengan kematian, karena kami dari Muharram.”
“Kami tidak akan lari. Kami akan dikubur di tanah ini. Tidak ada super power selain Allah SWT. Kami tidak takut kepada siapa pun kecuali Allah. Bunuhlah saya, perang ini tidak akan berakhir.”
“Saya sudah tua, tubuh saya lemah. Namun pertarungan ini bukan milik saya. Ini milik pemuda Iran. Anda tidak melawan seorang pria. Anda melawan sebuah bangsa yang mempertaruhkan martabatnya.”
Ketika membaca atau mendengar kata-kata itu hari ini, sulit rasanya untuk tidak merasakan getaran emosional di dalam dada. Seolah-olah beliau sudah memahami bahwa suatu hari tubuhnya mungkin akan tiada.
Tetapi yang beliau wariskan bukanlah ketakutan, melainkan keberanian. Bukan keputusasaan, melainkan harga diri sebuah bangsa. Dan benar saja. Syahidnya Sayyid Ali Khamenei ternyata tidak membuat perjuangan berhenti.
Justru sebaliknya, ia menjadi semacam api yang menyalakan kesadaran baru. Tidak hanya karena Iran berhasil menggempur semua pangkalan Militer AS di negara-negara teluk, juga mampu mengirimkan ratusan drone dan rudal sehingga meluluh lantakan Gedung pemerintahan Israel di Tel Aviv, tetapi yang paling tidak terduga adalah banyak orang yang sebelumnya tidak mengenal Syahid Sayyid Ali Khamenei, kini mulai mencari tahu siapa sebenarnya sosok ini.
Banyak yang sebelumnya tidak memiliki kedekatan emosional dengan Iran, kini mulai merasakan simpati dan penghormatan. Bahkan di berbagai belahan dunia Islam, nama beliau kini disebut dengan rasa haru dan hormat. Banyak pihak mulai menyadari bahwa isu Syiah vs Sunni adalah propaganda AS dan Israel untuk memecah belah umat Islam.