x

Ancaman Trump ke Iran Picu Lonjakan Harga Minyak, Tembus USD 114 per Barel

waktu baca 2 menit
Senin, 6 Apr 2026 09:00 17 Afrizal Ilmi

TODAYNEWS.ID — Harga minyak dunia melonjak tajam setelah ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Iran memicu kekhawatiran gangguan pasokan global, dengan minyak mentah menembus USD 114 per barel.

Penutupan Selat Hormuz dan eskalasi konflik menjadi faktor utama yang mendorong lonjakan harga energi dunia.

Harga minyak mentah Brent sebagai patokan internasional tercatat naik signifikan. Kenaikannya mencapai 2,35% hingga menyentuh USD 114,16 per barel.

Sementara itu, harga minyak mentah Amerika Serikat juga mengalami peningkatan. Angkanya naik 1,72% menjadi USD 110,91 per barel.

Lonjakan harga ini terjadi setelah Presiden Donald Trump memberikan ultimatum kepada Iran. Ia meminta Iran membuka Selat Hormuz atau menghadapi serangan terhadap infrastruktur penting.

Dalam unggahan media sosial, Trump melontarkan ancaman keras terhadap Iran. Ia menyebut negara tersebut akan “hidup di neraka” jika tidak membuka jalur pelayaran tersebut.

Trump juga mengancam akan menyerang pembangkit listrik dan jembatan milik Iran. Bahkan, ia sempat menulis “Selasa, 8:00 PM Waktu Bagian Timur!” tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.

Penutupan Selat Hormuz disebut terjadi akibat serangan terhadap kapal tanker minyak. Jalur strategis ini menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global.

Sekitar 20% pasokan minyak dunia sebelumnya melewati selat tersebut sebelum konflik berlangsung. Kondisi ini membuat gangguan yang terjadi berdampak luas terhadap distribusi energi global.

Gangguan tersebut disebut sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah pasokan minyak. Harga berbagai produk energi seperti bahan bakar jet, solar, dan bensin ikut melonjak sejak perang dimulai.

Trump sebelumnya juga menyatakan bahwa konflik kemungkinan akan berlangsung selama dua hingga tiga minggu. Pernyataan itu disampaikan dalam pidato nasional pada Rabu lalu.

Menurut TD Securities, hampir 1 miliar barel minyak diperkirakan hilang hingga akhir bulan. Jumlah itu terdiri dari sekitar 600 juta barel minyak mentah dan 350 juta barel produk olahan.

“Dengan konflik yang diperkirakan akan berlangsung setidaknya hingga pertengahan April, perhitungan produksi barel menjadi semakin suram,” kata Ryan McKay.

Sementara itu, Rapidan Energy memperkirakan kerugian bersih mencapai 630 juta barel hingga akhir Juni. Perhitungan tersebut sudah memperhitungkan berbagai upaya mitigasi seperti pengalihan jalur pipa dan pelepasan stok darurat.

Di tengah krisis, OPEC+ sepakat meningkatkan produksi sebesar 206.000 barel per hari pada Mei. Namun distribusi minyak masih menghadapi kendala akibat jalur pelayaran yang terganggu.

Serangan juga dilaporkan mengenai fasilitas energi milik Kuwait Petroleum Corporation. Perusahaan menyebut beberapa operasionalnya mengalami kerusakan signifikan akibat serangan drone.

OPEC+ memperingatkan bahwa pemulihan infrastruktur energi membutuhkan biaya besar dan waktu panjang. Kondisi ini diperkirakan akan terus menekan pasokan minyak global dalam waktu dekat.

 

Pilkada & Pilpres

INSTAGRAM

46 seconds ago
50 minutes ago
1 day ago
2 days ago
2 days ago
3 days ago

LAINNYA
x
x