Laporan: Dhanis
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar dalam konferensi pers capaian dua tahun Asta Cita, Senin (19/10/2026). Foto: Komdigi TODAYNEWS.ID – Kementerian Agama (Kemenag) mencatat sejumlah capaian program selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Program tersebut mencakup bantuan pendidikan, kesejahteraan guru, pemenuhan gizi siswa dan santri, pemberdayaan ekonomi umat, hingga penguatan kerukunan beragama.
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengatakan, program-program tersebut merupakan kontribusi Kemenag dalam mendukung Asta Cita, khususnya agenda yang berkaitan dengan pendidikan, kesejahteraan masyarakat, dan kehidupan beragama.
“Kami ingin kehadiran negara melalui Kementerian Agama semakin dirasakan masyarakat,” ujar Nasaruddin dalam konferensi pers capaian dua tahun Asta Cita, Senin (19/10/2026).
Di bidang pendidikan, Program Indonesia Pintar (PIP) menjangkau 5.216.294 siswa madrasah dan sekolah keagamaan sepanjang 2025–2026 dengan anggaran Rp4,07 triliun. Sementara itu, KIP Kuliah menjangkau 289.255 mahasiswa perguruan tinggi keagamaan dengan anggaran Rp3,032 triliun.
“Di bidang pendidikan, perhatian utama kami adalah memastikan keterbatasan ekonomi tidak memutus kesempatan anak-anak Indonesia untuk belajar,” tegas Menag.
Kemenag juga menyalurkan tunjangan profesi kepada 452.796 guru pada 2025 senilai Rp19,148 triliun. Pada 2026, jumlah penerima tercatat 671.704 guru dengan alokasi anggaran Rp25,996 triliun.
Di bidang kesehatan dan pemenuhan gizi, program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah menjangkau 6.335.217 siswa dan santri. Adapun program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menjangkau 3.209.783 siswa dan santri.
Sementara itu, Wakil Menteri Agama (Wamenag) Muhammad Syafi’i mengatakan, perluasan program MBG di pesantren perlu disertai pendataan yang akurat, distribusi tepat sasaran, serta pengawasan kualitas makanan.
“Anak-anak yang sehat dan tercukupi kebutuhan gizinya tentu memiliki kesempatan yang lebih baik untuk belajar, tumbuh, dan mengembangkan potensinya,” kata Wamenag.
Menurutnya, pesantren juga perlu dilibatkan dalam ekosistem MBG agar program tersebut turut mendorong pemberdayaan ekonomi pesantren.
Kemenag turut memperkuat kelembagaan pesantren melalui pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren. Langkah ini diharapkan memperkuat tiga fungsi pesantren, yakni pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.
Lebih lanjut, Sekretaris Jenderal Kemenag Kamaruddin Amin menyampaikan, pengumpulan zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya mencapai Rp44,698 triliun, dengan 149,954 juta catatan penerima manfaat.
Selain itu, aset wakaf uang tercatat Rp4,7 triliun dengan 750 ribu penerima manfaat. Program pemberdayaan ekonomi juga dikembangkan melalui 267 Kampung Zakat, 287 titik pemberdayaan ekonomi berbasis KUA, dan 25 Kota Wakaf.
“Bagi kami, yang penting bukan hanya berapa besar dana yang terkumpul, melainkan seberapa besar manfaatnya bagi masyarakat,” kata Sekjen Kemenag.
Di bidang kerukunan umat beragama, indeks kerukunan meningkat dari 76,47 pada 2024 menjadi 77,89 pada 2025. Capaian tersebut melampaui target RPJMN 2025 sebesar 76,77.
Kemenag menyatakan berbagai program tersebut akan terus diarahkan untuk memperluas akses layanan keagamaan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta memperkuat kemandirian ekonomi umat.
“Harapannya, masyarakat tidak hanya terbantu hari ini, tetapi juga semakin berdaya untuk masa depan,” pungkasnya.
Editor: Azis Arriadh