TODAYNEWS.ID — Dukungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terhadap gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran menegaskan adanya perbedaan pendekatan dalam konflik kawasan, terutama terkait Lebanon.
Meski menyambut langkah diplomatik tersebut, Israel memastikan bahwa gencatan senjata tidak akan menghentikan operasi militernya di Lebanon.
Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran resmi disepakati pada Rabu (8/4/2026). Kesepakatan itu tercapai melalui mediasi pemerintah Pakistan.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyatakan gencatan senjata berlaku segera. Ia juga menyebut kesepakatan tersebut mencakup wilayah Lebanon.
Namun, Netanyahu menyampaikan pandangan berbeda terkait cakupan kesepakatan tersebut. Ia menegaskan bahwa gencatan senjata tidak berlaku untuk konflik yang melibatkan Israel di Lebanon.
Menurut Netanyahu, pemerintah AS tetap berkomitmen mencapai tujuan perang dalam perundingan lanjutan. Proses negosiasi itu dijadwalkan berlangsung di Pakistan.
Israel, kata Netanyahu, mendukung langkah AS dalam menghadapi Iran. Ia menekankan bahwa Iran harus berhenti menjadi ancaman terkait “teror, rudal, dan nuklir.”
“Israel mendukung kebijakan Presiden Trump untuk menangguhkan serangan terhadap Iran selama dua pekan agar Iran segera membuka selat (Hormuz) dan menghentikan serangan terhadap AS, Israel, dan negara-negara di kawasan,” kata Netanyahu melalui media sosial, Rabu (8/4/2026).
Di saat yang sama, Israel tetap melanjutkan operasi militernya di Lebanon. Serangan udara dan darat telah dilakukan sejak awal Maret sebagai respons terhadap aksi Hizbullah.
Hizbullah sebelumnya menyatakan serangan terhadap Israel sebagai bentuk balasan. Aksi itu dipicu oleh pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, pada 28 Februari 2026.
Konflik di Lebanon sebenarnya sempat mereda setelah adanya gencatan senjata pada November 2024. Namun, Israel dilaporkan kerap melanggar kesepakatan tersebut sebelum konflik Iran kembali memanas.
Situasi di lapangan menunjukkan eskalasi yang signifikan sejak awal Maret. Serangan Israel dilaporkan berlangsung hampir setiap hari di wilayah Lebanon.
Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat dampak besar dari operasi militer tersebut. Lebih dari 1.500 orang dilaporkan tewas akibat serangan yang terjadi.
Selain korban jiwa, krisis kemanusiaan juga semakin memburuk. Sekitar 1,1 juta warga Lebanon terpaksa mengungsi akibat konflik yang terus berlangsung.
Dengan kondisi tersebut, dukungan Israel terhadap gencatan senjata AS-Iran tidak serta-merta menghentikan konflik regional. Ketegangan di Lebanon tetap menjadi titik panas yang belum terselesaikan.