Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia meneken tiga kesepakatan bilateral bidang energi dan mineral dengan pemerintah Korea Selatan yang disaksikan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan Blue House, Seoul, Korea Selatan, pada Rabu (1/4/2026). (Foto: Sekretariat Presiden) TODAYNEWS.ID – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia resmi menandatangani tiga kesepakatan bilateral di bidang energi dan mineral bersama Pemerintah Korea Selatan sebagai langkah memperkuat kerja sama energi Indonesia Korea di kawasan.
Berdasarkan keterangan resmi Kementerian ESDM yang diterima di Jakarta, Rabu, disebutkan bahwa penandatanganan kerja sama tersebut berlangsung di Istana Kepresidenan Blue House, Seoul, Korea Selatan, pada Rabu (1/4) waktu setempat. Kegiatan ini turut disaksikan oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung.
Dokumen Memorandum Saling Pengertian (MSP) atau Memorandum of Understanding (MoU) yang disepakati meliputi MSP bidang energi bersih serta Carbon Capture and Storage (CCS) dengan Kementerian Iklim, Energi dan Lingkungan Korea Selatan. Selain itu, terdapat pula MSP mineral kritis dengan Kementerian Perdagangan, Industri, dan Sumber Daya Korea Selatan.
Setelah proses pertukaran MSP, Bahlil menegaskan bahwa kerja sama energi Indonesia Korea menjadi bagian penting dalam memperkuat kapasitas kedua negara, terutama dalam menghadapi tantangan global seperti potensi krisis energi akibat konflik di Timur Tengah.
“Baru saja kita teken kerja sama energi di hadapan Bapak Presiden Prabowo dan Presiden Lee Jae Myung. Dan ini sangat penting bagi kedua negara dalam menghadapi kemungkinan lahirnya risiko gangguan pasokan energi di wilayah kawasan,” kata Bahlil.
Pada sektor energi bersih, kedua negara mendorong pengembangan teknologi, peningkatan investasi, pembentukan kesepakatan dagang, hingga penguatan sumber daya manusia.
Ruang lingkup kerja sama ini mencakup energi terbarukan, nuklir, hidrogen, penyimpanan dan efisiensi energi, baterai, bioenergi, pengolahan sampah menjadi energi, jaringan listrik cerdas, stasiun pengisian, hingga sistem energi untuk pulau mandiri.
Sementara itu, implementasi teknologi penangkapan karbon emisi (Carbon Capture and Storage/CCS) akan dijalankan bersama oleh Indonesia dan Korea Selatan.
Kerja sama ini diharapkan mampu membuka peluang pengembangan CCS lintas negara sekaligus mendorong promosi dan komersialisasi teknologi tersebut, termasuk memfasilitasi berbagai proyek penelitian di sektor industri.
Di sektor mineral kritis, kedua negara juga menjalin kerja sama dalam survei dan studi geosains, pengolahan, pemurnian, hingga daur ulang. Selain itu, kerja sama juga mencakup standar lingkungan, rehabilitasi tambang, reklamasi pascatambang, serta aspek keberlanjutan.
Tidak hanya itu, kolaborasi ini juga diarahkan untuk meningkatkan sinergi antara sektor publik dan swasta serta mendorong perdagangan dan investasi dalam proyek-proyek mineral kritis.
“Hasil kunjungan ini mencerminkan posisi aktif Indonesia dalam membangun diplomasi energi, menjalin konsultasi dan berdiskusi atas penanganan perkembangan isu-isu energi terkini,” jelas Bahlil.
Dalam pertemuan tersebut, Presiden Prabowo menyampaikan keinginan untuk meningkatkan hubungan kemitraan strategis antara Indonesia dan Korea Selatan menjadi lebih komprehensif.
Presiden Prabowo juga mendorong para menteri dari kedua negara agar segera merealisasikan peningkatan kerja sama tersebut.
“Marilah kita meminta para menteri kita untuk berupaya mewujudkan peran yang lebih tinggi ini,” tutur Presiden Prabowo.
Sementara itu, Presiden Lee turut menyampaikan komitmen untuk memperkuat hubungan strategis dengan Indonesia.
“Pada kesempatan kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo ke Korea ini, menjadi sangat bermakna bahwa kita akan meraih hasil bersejarah dengan meningkatkan hubungan bilateral kita menjadi kemitraan strategis komprehensif khusus,” ucap Presiden Lee.
Lee juga mengatakan bahwa tidak ada hubungan strategis dan komprehensif khusus antara Korea Selatan dengan negara manapun di dunia selain dengan Indonesia.