Salah satu desa di Greenland. Foto: ReutersTODAYNEWS.ID – Mayoritas warga Greenland secara tegas menyampaikan sikap penolakan mereka terhadap upaya Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang ingin mengakuisisi Greenland sebagai bagian dari AS.
Politisi asal Greenland dari partai Inuit Ataqatigiit yang juga Anggota Parlemen Denmark, menegaskan bahwa Greenland tidak untuk dijual dan tidak akan pernah dijual kepada siapapun.
“Greenland tidak untuk dijual, dan Greenland tidak akan pernah untuk dijual,” kata Chemnitz, kepada Al Jazeera, pada Selasa (13/1/2026).
Ia menegaskan bahwa warga Greenland tidak pernah berpikir untuk mengubah indentitas mereka menjadi warga AS. Menurutnya keinginan Donald Trump itu tidak akan bisa membeli jiwa warga Greenland.
“Orang-orang tampaknya berpikir mereka dapat membeli jiwa Greenland. Itu adalah identitas kami, bahasa kami, budaya kami – dan akan terlihat sangat berbeda jika Anda menjadi warga negara Amerika, dan itu bukanlah sesuatu yang diinginkan mayoritas di Greenland,” tegasnya Chemnitz.
Sementara itu, Anggota Parlemen asal Greenland lainnya, Aki-Matilda Hoegh-Dam dari partai Naleraq, juga mengatakan bahwa ini adalah masa sulit bagi 56.000 penduduk Greenland.
“Ini merupakan masa yang sangat bergejolak bagi banyak warga Greenland. Dalam banyak hal, kami telah terisolasi dari seluruh dunia selama hampir 300 tahun, dengan kontak terbatas dengan kekuatan-kekuatan besar, terutama dalam hal hubungan luar negeri. Tetapi sekarang kami merasa terpojok, dan itu membuat banyak orang cemas,” katanya kepada Al Jazeera.
Menurutnya semua orang di Greenland tidak menginginkan adanya penjajah baru (Amerika) di tanah mereka.
Ia melanjutkan, sudah cukup bahwa Denmark selama ini menjadi penjajah di tanah mereka dan tak perlu AS datang hanya untuk menjadi penjajah.
“Semua partai di Greenland telah menyatakan bahwa kami tidak ingin menjadi orang Amerika – dan kami juga tidak ingin menjadi orang Denmark. Kami ingin menjadi orang Greenland. Kami sudah memiliki satu penjajah; kami tidak membutuhkan yang baru,” ujar Aki-Matilda Hoegh-Dam.
Seperti diberitakan, sejak Desember 2025, Donald Trump telah berulang kali menyatakan keinginannya untuk mengakuisisi pulau es tersebut.
Keinginan yang sama juga pernah ia nyatakan pertama kali pada tahun 2019 selama masa jabatan pertamanya di Gedung Putih.
Saat itu, perdana menteri Denmark menyebut gagasan tersebut “absurd” dan Trump membatalkan kunjungan kenegaraan resmi ke Denmark.
Tetapi kali ini, pemerintahan Trump mengisyaratkan bahwa kekuatan militer siap menjadi pilihan utama dan telah memerintahkan militer AS untuk menginvansi Greenland.
Sebelumnya, pada pernyataan hari Sabtu (10/1), Trump menyatakan bahwa AS akan mengakuisisi Greenland, “suka atau tidak suka,” dan memperingatkan bahwa ia akan melakukan ini “dengan cara yang sulit” jika perlu.
Trump beralasan bahwa faktor keamanan dan kebutuhan menjadi kekhawatiran utama untuk melawan dan mengakhiri pengaruh Rusia dan China di Arktik.
Sementara itu, menurut Daily Mail, Trump meminta Komando Operasi Khusus Gabungan untuk menyiapkan rencana invasi, tetapi Kepala Staf Gabungan menolak dengan alasan bahwa langkah tersebut ilegal dan tidak mendapat dukungan kongres.