Utusan khusus Presiden AS Donald Trump untuk Asia Barat, Steve Witkoff. Foto: Reuters TODAYNEWS.ID – Menurut sebuah laporan yang mengutip para diplomat regional, utusan khusus Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk Asia Barat, Steve Witkoff, telah merusak negosiasi dengan Iran dengan menyebarkan kebohongan untuk membangun alasan agresi militer.
Menurut laporan tersebut, Witkoff telah memalsukan laporan sejak perundingan putaran pertama yang dilakukan di Muscat, ibu kota Oman, pada Jumat (6/2/2026) lalu.
Dalam sebuah wawancara dengan Fox pada Senin (2/3/2025), Witkoff mengatakan bahwa Iran telah mengendalikan 460 kilogram uranium dengan pengayaan 60 persen.
“Dalam pertemuan pertama itu, kedua negosiator Iran mengatakan kepada kami secara langsung, bahwa mereka mengendalikan 460 kilogram uranium dengan pengayaan 60%,” kata Witkoff.
“Dan mereka menyadari bahwa itu bisa menghasilkan 11 bom nuklir, dan itulah awal dari posisi negosiasi mereka,” klaim Witkoff.
Bahkan Witkoff menuding Iran bangga lantaran telah menghindari berbagai protokol pengawasan untuk dapat membuat 11 bom nuklir.
“Mereka bangga akan hal itu. Mereka bangga karena telah menghindari berbagai protokol pengawasan untuk sampai ke titik di mana mereka dapat mengirimkan 11 bom nuklir,” klaim Witkoff.
Namun, seorang diplomat Teluk Persia seperti dilaporkan kantor berita Presstv pada Rabu (4/3/2025), yang memiliki pengetahuan langsung tentang pembicaraan tersebut mengatakan kepada MS NOW bahwa deskripsi Witkoff tentang percakapan itu tidak benar.
Menurut diplomat Teluk Persia yang tidak disebutkan namanya, pihak Iran mengatakan kepada Witkoff bahwa Iran bersedia menyerahkan uranium yang diperkaya sebagai bagian dari perjanjian baru dengan Trump.
Pihak Iran juga mengatakan kepada Witkoff bahwa Iran memperkaya uranium setelah Trump menarik diri dari perjanjian nuklir tahun 2015 yang ditengahi oleh pemerintahan Obama.
“Saya dapat menyatakan dengan tegas bahwa ini tidak akurat,” kata diplomat itu, merujuk pada keterangan Witkoff.
“Dia menjelaskan bahwa semua materi ini dapat hilang jika kita mencapai kesepakatan dan Iran dapat dibebaskan dari sanksi,” tambah diplomat itu.
Sementara, orang kedua yang mengetahui perundingan tersebut membenarkan bahwa para pejabat Iran menolak untuk membahas rudal balistik negara mereka dan kelompok-kelompok perlawanan dengan Witkoff dan Jared Kushner (menantu Trump), dan mengatakan bahwa isu-isu tersebut dapat dibahas dalam perundingan regional.
Namun, paska perundingan putaran ketiga di Swiss, dan Iran masih terlibat dalam negosiasi tersebut, AS dan Israel justru memulai serangan militer tanpa provokasi dan melancarkan serangan ke berbagai kota di Iran, pada, Sabtu (28/2).
Sampai akhirnya pada serangan di hari Minggu pagi, Pemimpin Revolusi Islam Ayatullah Sayyid Ali Khamenei dibunuh dalam serangan teroris AS-Israel.
Iran pun mulai dengan cepat membalas agresi kriminal tersebut dengan melancarkan serangan rudal dan pesawat tak berawak ke wilayah yang diduduki Israel serta pangkalan-pangkalan AS di negara-negara regional.