TODAYNEWS.ID – Dinas Kesehatan Kota Semarang menegaskan hingga saat ini belum ada kasus super flu yang masuk ke Kota Semarang, sehingga belum perlu menyatakan status siaga pada penyebaran virus ini.
Kepala Dinkes Kota Semarang Moh Abdul Hakam menyebut sejumlah sampel pemeriksaan yang dikirim ke laboratorium nasional menunjukkan hasil negatif terhadap subclade K.
Hakam menjelaskan super flu pada dasarnya merupakan virus influenza tipe A, sama seperti flu musiman yang umum terjadi di masyarakat. Perbedaannya terletak pada subclade atau turunan virusnya.
“Super flu itu sebetulnya sama dengan influenza tipe A, sama persis. Yang membedakan adalah subclade K-nya. Jadi variannya tetap tipe A, hanya subclade-nya saja yang K,” kata Hakam, Selasa (6/1/2026).
Meski subclade K memiliki tingkat penularan yang lebih cepat, menurut Hakam, tingkat keparahan penyakitnya relatif rendah.
“Memang dilaporkan penyebarannya lebih cepat, tetapi angka rawat inap dan mortalitasnya ternyata tidak tinggi,” ujarnya.
Menurut Hakam, virus tersebut pertama kali diketahui sejak Agustus tahun lalu. Namun, di Kota Semarang hingga kini belum ditemukan indikasi penyebaran subclade K.
“Alhamdulillah sampai detik ini, beberapa sampel yang kami kirim ke laboratorium tingkat nasional tidak ada yang masuk subclade K,” kata dia.
Hakam mengatakan langkah pencegahan tidak berbeda dengan penanganan influenza pada umumnya. Dia mengimbau masyarakat untuk beristirahat ketika mulai merasakan gejala flu.
“Kalau flu, istirahat di rumah, jangan bertemu orang dulu, makan dan minum yang bergizi. Kalau demam minum obat penurun panas. Kalau belum sembuh, silakan ke puskesmas, klinik, atau rumah sakit,” ujarnya.
Hakam juga mengingatkan bahwa influenza merupakan penyakit akibat virus sehingga tidak memerlukan antibiotik.
“Kalau tenggorokan mulai sakit dan flu, hentikan aktivitas. Bed rest di rumah, makan yang segar-segar, me time. Itu penting untuk meningkatkan imunitas,” tuturnya.
Dia juga menyinggung vaksinasi influenza tetap efektif untuk mencegah penularan dan menekan risiko keparahan. Menurutnya, vaksin influenza masih bisa mencegah supaya tidak tertular.
“Kalau pun tertular, tidak parah, tidak sampai dirawat di rumah sakit atau menyebabkan kematian. Itu bisa dicegah dengan vaksin,” katanya.
Pihaknya meminta masyarakat tidak panik berlebihan menyikapi isu super flu. Edukasi dinilai lebih penting dibandingkan menimbulkan ketakutan.
Menurut Hakam, tingginya mobilitas masyarakat lintas daerah dan negara juga dinilai berpengaruh terhadap cepatnya penularan. Dalam kasus ini, protokol kesehatannya sama seperti ketika pandemi Covid-19.
“Sekarang mobilisasi orang luar biasa. Pagi di Semarang, siang sudah di Malaysia atau Singapura. Ketemu banyak orang dengan jumlah virus yang lebih banyak, imunitas bisa drop kalau kecapaian atau kehujanan,” pungkasnya.