Proses pemindahan kerangka anjungan (jacket) proyek sumur eksplorasi Manpatu milik PT Pertamina Hulu Mahakam di fasilitas fabrikasi Tanjung Pinang, Kepulauan Riau sebelum dikirim ke wilayah operasi Mahakam di lepas pantai Balikpapan, Kalimantan Timur. (Foto: Dok. Humas PT PHM) TODAYNEWS.ID – PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) terus mengembangkan Proyek Manpatu, yang merupakan temuan sumur eksplorasi di lapangan lepas pantai Balikpapan, Kalimantan Timur.
“Pengembangan temuan sumur eksplorasi Manpatu di lapangan lepas pantai South Mahakam terus berproses,” ujar General Manager (GM) PT PHM Setyo Sapto Edi, Senin, ketika ditanya menyangkut produksi minyak dan gas bumi di Balikpapan.
Proyek Manpatu ini berlokasi sekitar 35 kilometer dari pesisir Balikpapan, dengan kedalaman laut mencapai 50 hingga 60 meter. Selain itu, fasilitas yang dibangun dirancang mampu mengalirkan gas hingga 80 juta metrik standar kaki kubik per hari (MMSCFD).
Saat ini, proyek tersebut telah memasuki tahap pemindahan kerangka anjungan (load out jacket) dari fasilitas fabrikasi di PT Meindo Elang Indah, Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, pada 26 Maret 2026. Tahapan ini menjadi langkah awal sebelum struktur tersebut dikirim (sail away) dan dipasang di wilayah operasi Mahakam di Selat Makassar, yang masuk dalam perairan Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.
Selanjutnya, bagian atas anjungan (topside) dijadwalkan menyusul pada pertengahan April 2026. Sementara itu, seluruh instalasi platform ditargetkan rampung pada awal kuartal III tahun ini, yakni sekitar Juli hingga pertengahan Agustus 2026.
“Ada juga konstruksi bagian atas dengan total bobot sekitar 2.400 ton, serta juga dipasang pipa bawah laut sepanjang sekitar 2,5 kilometer dan mengebor 11 sumur pengembangan,” katanya.
PT PHM sendiri merupakan anak perusahaan PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) yang mengelola operasi migas di wilayah kerja Mahakam. Di Kalimantan Timur, perusahaan ini sebelumnya dikenal sebagai Total Indonesie sebelum 2017, yang merupakan perusahaan Indonesia dengan dukungan modal dan teknologi dari Total, Prancis.
Selain itu, Proyek Manpatu juga mencatat kemajuan dalam penggunaan komponen lokal. Untuk pertama kalinya di area Mahakam, proyek ini menggunakan pipa produksi buatan dalam negeri secara penuh, mulai dari pipa bawah laut hingga sambungan pipa di anjungan.
Tidak hanya itu, PT PHM juga melaporkan pencapaian lebih dari dua juta jam kerja tanpa insiden kehilangan waktu kerja (lost time incident/LTI) hingga Maret 2026.
Sebagai proyek dengan sistem jalur cepat (fast track), Proyek Manpatu dikerjakan dengan jadwal ketat sejak penemuan gas pada 2022. Oleh karena itu, fasilitas ini ditargetkan mulai berproduksi (onstream) pada kuartal I 2027, demikian Setyo Sapto Edi.