x

Pemula Wajib Tahu! Ini Faktor Cedera yang Sering Dialami Saat Bermain Padel

waktu baca 3 menit
Kamis, 12 Feb 2026 23:59 20 Asep Awaludin

TODAYNEWS.ID – Demam olahraga Padel kini semakin masif. Beberapa kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya hingga Bali banyak dipenuhi lapangan-lapangan olahraga ini.

Investor dan pengusaha berlomba membangun fasilitas eksklusif, lengkap dengan kafe dan ruang komunitas, demi menjawab antusiasme masyarakat kelas menengah urban yang menjadikan padel sebagai gaya hidup baru.

Namun di balik gemerlap tren dan euforia olahraga modern ini, ada ancaman yang mengintai, cedera bahu, lutut, dan engkel berkepanjangan yang kerap menghantam para pemain, terutama pemula.

Bagi yang belum terbiasa, padel terlihat sederhana, lapangan lebih kecil dari tenis, dimainkan berpasangan, bola boleh memantul ke dinding kaca, tetapi justru di situlah tantangannya.

Permainan padel memaksa pemain bermanuver cepat ke segala arah, dalam hitungan detik, tubuh harus berputar 180 hingga 360 derajat untuk mengejar bola yang memantul tak terduga dari dinding, pergerakan lateral mendadak, lompatan pendek, hingga perubahan arah ekstrem membuat engkel menjadi titik rawan.

Cedera engkel biasanya terjadi akibat terpelintir atau terkilir saat kaki salah tumpuan, tekanan mendadak ketika mendarat dari lompatan atau berhenti secara tiba-tiba memperbesar risiko robekan ligamen.

Tak sedikit pemula yang menganggap padel “lebih ringan” dari tenis, padahal, tanpa teknik dan kesiapan fisik, risiko justru lebih besar.

Ancaman lain datang dari bahu, berbeda dengan raket tenis yang memiliki senar sebagai media pantulan, raket padel terbuat dari karbon dan fiber tanpa senar, struktur padat ini membuat getaran lebih terasa di lengan dan bahu ketika bola dipukul keras berulang kali.

Bola padel yang mirip bola tenis memiliki tekanan dan pantulan cukup kuat, ketika pemain memukul dengan tenaga penuh, apalagi tanpa teknik yang benar, beban tertumpu langsung pada sendi bahu, dalam kondisi tertentu, ini dapat memicu peradangan, robekan otot rotator cuff, bahkan dislokasi.

Gerakan smash berulang tanpa pemanasan juga meningkatkan risiko cedera pergelangan tangan karena raket padel cenderung lebih pendek dan padat.

Selain bahu dan engkel, lutut menjadi korban berikutnya, gerakan mendadak, berhenti tiba-tiba, serta perubahan arah ekstrem memberi tekanan besar pada ligamen lutut.

Pemula yang belum memiliki kekuatan otot paha dan betis memadai akan lebih mudah mengalami cedera ligamen atau nyeri sendi berkepanjangan.

Praktisi olahraga, Haris, yang ditemui di Bandung, (9/2/2026), menegaskan bahwa pemanasan adalah kunci utama.

“Pastinya untuk para pemain padel pemula, utamakan pemanasan dan stretching, padel berbeda dengan tenis, tanpa senar, raket padel membuat pemain harus memukul lebih kuat agar bola sampai ke lawan, kalau tidak siap, bahu bisa cedera,” ungkap Haris yang telah bermain tenis lebih dari 46 tahun.

Menurut Haris, kesalahan paling umum para pemula adalah langsung bermain tanpa peregangan, padahal, stretching membantu meningkatkan fleksibilitas otot dan kesiapan sendi menghadapi gerakan eksplosif.

Padel memang menyenangkan, kompetitif, dan membangun jejaring sosial, namun di balik popularitasnya, kesadaran akan risiko cedera harus menjadi perhatian utama.

Euforia olahraga baru jangan sampai membuat pemain lengah, cedera bahu, lutut, dan engkel bukan sekadar nyeri sesaat, dampaknya bisa berkepanjangan dan mengganggu aktivitas sehari-hari, karena di lapangan padel, bukan hanya bola yang memantul cepat, risiko cedera pun bisa datang tanpa aba-aba.***

Pilkada & Pilpres

INSTAGRAM

6 hours ago
7 hours ago
14 hours ago
1 day ago

LAINNYA
x
x