Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). (Foto: Antara) TODAYNEWS.ID – Pemerintah menargetkan pembangunan 24 juta sambungan pipa air bersih ke rumah hingga 2029, atau setara 40 persen cakupan perkotaan (urban coverage).
Target tersebut diperkirakan mampu menjangkau sekitar 93 juta penduduk di seluruh Indonesia.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mengakui bahwa target ini bukan pekerjaan ringan. Karena itu, diperlukan kolaborasi kuat lintas sektor agar target tersebut dapat tercapai tepat waktu.
“Itu berarti hingga 93 juta orang. Ini pekerjaan yang berat sekali. Sekarang tahun 2026, bisa enggak tiga tahun kita bisa segini,” kata AHY dalam acara Water Townhall Meeting di Jakarta, Selasa.
Ia menjelaskan, saat ini jumlah sambungan pipa air bersih yang telah terpasang baru mencapai 14 juta sambungan rumah. Angka tersebut telah mengaliri sekitar 56 juta penduduk atau sekitar 20 persen dari total populasi Indonesia.
Sementara itu, dalam jangka panjang pemerintah menetapkan target yang jauh lebih ambisius melalui Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045. Pada 2045, ditargetkan tersedia 56 juta sambungan rumah atau 100 persen cakupan, yang diproyeksikan mampu melayani 211 juta jiwa.
“Ini pekerjaan berat dan harus kita lakukan secara serius karena sekali lagi kita harus memastikan setiap warga itu punya akses terhadap air bersih,” ujarnya.
Untuk mencapai target sambungan pipa air bersih tersebut, AHY menekankan sejumlah langkah strategis yang perlu diperkuat.
Pertama, konservasi air guna memastikan ketersediaan air tetap terjaga untuk memenuhi kebutuhan saat ini maupun di masa depan.
Kedua, pengelolaan serta pemanfaatan air secara efektif dan efisien agar tidak terjadi pemborosan. Ketiga, mitigasi bencana, termasuk risiko banjir dan bencana hidrometeorologi lainnya.
“Kita harus mengelola dan mengembangkan, menggunakan ini (air) dengan sebaik mungkin, efektif dan efisien. Jangan kita istilahnya menggunakan tanpa tujuan yang tepat,” tambah AHY.
Ia juga memaparkan peta kebutuhan air nasional yang menunjukkan adanya kompetisi antarsektor dalam pemanfaatannya.
Saat ini, sekitar 74 persen sumber daya air digunakan untuk irigasi guna mendukung swasembada pangan.
Kebutuhan tersebut tidak hanya terpusat di Pulau Jawa dan Sumatra, melainkan juga diperluas ke Kalimantan, Sulawesi, Papua, serta wilayah Indonesia Timur.
Sementara itu, penggunaan air untuk kebutuhan rumah tangga mencapai sekitar 9 persen, industri 6 persen, kebutuhan komersial 3 persen, dan sektor lainnya 8 persen.
Karena itu, pemerintah menilai pengelolaan air yang terintegrasi menjadi kunci utama agar kebutuhan terbesar di sektor pertanian tetap berjalan optimal tanpa mengorbankan akses air bersih bagi masyarakat luas.