x

Mens Rea Pandji Pragiwaksono: Ketika Tawa Menjadi Orasi dan Panggung Menjadi Medan Kesadaran

waktu baca 4 menit
Kamis, 8 Jan 2026 07:43 5 Akbar Budi
Oleh: Rani Badri Kalianda, Founder & Facilitator Soul Of Speaking
Dalam dunia hiburan modern, batas antara menghibur dan menggugah semakin tipis.
Salah satu contoh yang memantik diskusi publik adalah pertunjukan Mens Rea dari Pandji Pragiwaksono.
Pertanyaannya bukan lagi sekadar ‘ini stand up comedy atau orasi politik?’, melainkan: apa yang sesungguhnya sedang dilakukan oleh kata-kata di atas panggung?
Dari sudut pandang Soul of Speaking, inilah titik paling penting: niat (intent) dan dampak batin dari sebuah ucapan.

Tawa yang tidak lagi Netral

Secara bentuk, Mens Rea adalah stand up comedy. Formatnya jelas: monolog, punchline, tawa penonton.
Namun, secara fungsi komunikasi, ia bergerak lebih jauh. Tawa dihadirkan bukan hanya sebagai hiburan, melainkan sebagai alat pembuka kesadaran.
Dalam komunikasi jiwa (Soul Of Speaking), tawa memiliki fungsi strategis:
Ia menurunkan pertahanan emosional audiens. Ketika orang tertawa, ia membuka diri.
Dan ketika diri terbuka, ide—bahkan kritik—masuk tanpa perlawanan.
Di titik inilah Mens Rea bekerja bukan sekadar sebagai komedi, tetapi sebagai orasi kesadaran sipil: sebuah pidato publik yang dibungkus humor, agar pesan tidak terasa menggurui, namun tetap menggugah.

Apakah Ini Orasi Politik Bertopeng Komedi?

Pertanyaan ini sering muncul karena materi Mens Rea menyentuh wilayah sensitif: kekuasaan, demokrasi, hukum, dan absurditas sistem. Namun istilah “bertopeng” sebenarnya kurang tepat.
Dalam perspektif Soul of Speaking, ini bukan soal topeng, melainkan kendaraan.
Dan komedi adalah kendaraannya. Kesadaran publik adalah tujuannya. Banyak orasi besar dalam sejarah justru lahir dari bahasa yang sederhana, bahkan jenaka.
Karena pesan yang berat tidak selalu harus disampaikan dengan wajah tegang. Kadang, tawa adalah jalan paling jujur untuk mengatakan kebenaran.

Mens Rea dan Niat Berbicara

Nama Mens Rea sendiri—yang dalam istilah hukum berarti “niat batin”—menjadi petunjuk penting. Pertunjukan ini tidak lahir dari niat kosong.
Ia dibangun dari kesadaran bahwa kata-kata membentuk cara berpikir masyarakat.
Dalam Soul of Speaking, setiap ucapan selalu membawa tiga lapis energi:
  • Niat pembicara
  • Getaran emosi
  • Jejak batin pada pendengar
Ketika sebuah pertunjukan memicu diskusi, perdebatan, bahkan ketidaknyamanan, itu pertanda bahwa kata-kata tidak berhenti di telinga—ia bekerja di kesadaran.

Bahaya akan mengintai: Saat Kritik Bergeser Menjadi Penghinaan

Dan di sinilah wilayah rawan bagi siapa pun yang berdiri di panggung publik, terutama komika.
Terlebih komedi yang menyentuh isu sosial dan politik selalu berada di persimpangan:
  • Menyadarkan atau menghasut
  • Mengkritik sistem atau melukai identitas
  • Menggugah nalar atau mempermalukan manusia
Soul of Speaking menegaskan satu prinsip penting: kata yang kuat bukan kata yang  merendahkan, melainkan kata yang mengangkat kesadaran.
Ketika kritik bergeser ke:
  • SARA,
  • Penghinaan fisik,
  • Stereotip identitas.
Maka, tawa yang lahir bukan lagi tawa pembebasan, melainkan tawa pelampiasan. Dan tawa semacam ini meninggalkan residu: luka, bukan pemahaman.

Komedi yang Cerdas: Menertawakan Sistem, Bukan Manusia

Ada satu kaidah etis yang relevan untuk semua komika modern: punch up, not punch down.
Menyerang kebijakan, logika kekuasaan, dan kemunafikan sistem adalah kritik yang sah dan perlu.
Sedang menyerang tubuh, asal-usul, atau identitas adalah jalan pintas yang murah—mudah tertawa, tapi mahal secara moral.
Komedi yang berkelas tidak membutuhkan penghinaan fisik. Ia cukup memotret kontradiksi, absurditas, dan kebohongan logika.
Menertawakan keputusan yang tidak masuk akal jauh lebih kuat daripada menertawakan wajah seseorang.
Karena yang pertama membangunkan pikiran, sementara yang kedua hanya menghibur ego.

Komika sebagai Penjaga Udara Batin Publik

Dalam Soul of Speaking, seorang pembicara—termasuk komika—adalah penjaga atmosfer batin ruang publik.
Pertanyaannya:
  1. Apakah yang ia ucapkan akan menentukan?
  2. Apakah audiens pulang dengan kesadaran baru?
  3. Atau pulang dengan kebencian yang dibenarkan oleh tawa?
Sehingga panggung bukan sekadar tempat tampil, tetapi ruang pembentukan rasa kolektif.

Ketika Tawa Menjadi Jalan Pulang

Mens Rea menunjukkan bahwa stand up comedy hari ini telah berevolusi. Ia bukan lagi sekadar hiburan malam minggu, tetapi bisa menjadi ruang refleksi sosial.
Namun kekuatan ini menuntut kedewasaan baru. Semakin tajam kata, semakin besar tanggung jawab moralnya.
Karena tawa yang sejati bukan yang membuat orang lain kecil, melainkan yang membuat kesadaran kita bertumbuh besar.
Dan di sinilah seni berbicara menemukan martabatnya: ketika kata tidak hanya lucu, tetapi jujur, bertanggung jawab, dan memerdekakan batin manusia. (RBK)

Pilkada & Pilpres

INSTAGRAM

13 hours ago
13 hours ago
1 day ago
1 day ago

LAINNYA
x
x