x

Laporan Media AS: Trump Salah Perhitungan Mengenai Serangan ke Iran

waktu baca 3 menit
Rabu, 11 Mar 2026 22:00 15 Dhanis Iswara

TODAYNEWS.ID – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dinilai telah melakukan kesalahan besar dalam memperhitungkan respons Iran atas agresi yang dilakukan AS dan rezim Zionis Israel, demikian menurut The New York Times, pada Rabu (11/3/2026).

Menurut surat kabar harian terkemuka Amerika itu, penutupan sementara Selat Hormuz dan melonjaknya harga minyak dunia merupakan bukti bahwa Trump sangat meremehkan Iran sejak agresi yang dilancarkan, pada Sabtu (28/2) lalu.

Terlebih serangan tak henti-henti yang dilakukan oleh Iran ke sejumlah objek strategis AS di di negara-negara Arab dan wilayah Israel, semakin memperparah dampak terhadap pasar global.

Menurut artikel tersebut sebagaimana dilaporkan kantor berita Presstv, yang mengutip beberapa sumber anonim, pemerintahan Trump keliru meyakini bahwa harga minyak akan naik sebentar selama beberapa hari lalu turun, seperti yang terjadi selama perang 12 hari pada Juni tahun lalu.

“Iran telah merespons jauh lebih agresif daripada yang dilakukannya selama perang 12 hari Juni lalu, dengan menembakkan rentetan rudal dan drone ke pangkalan militer AS,” demikian pernyataan tersebut.

Namun, Gedung Putih terbukti salah kali ini karena tidak menganggap serius ancaman Teheran untuk menutup Selat Hormuz yang merupakan kawasan strategis di Teluk Persia.

Menurut Times, pengiriman komersial telah terhenti di Teluk Persia, harga minyak melonjak, dan pemerintahan Trump berupaya keras mencari cara untuk meredam krisis ekonomi yang telah memicu kenaikan harga bensin bagi warga Amerika.

“Insiden ini merupakan contoh nyata betapa salahnya penilaian Trump dan para penasihatnya tentang bagaimana Iran akan menanggapi konflik yang dianggap pemerintah di Teheran sebagai ancaman eksistensial,” tambah pernyataan itu.

Setelah Trump memberikan arahan tertutup kepada para anggota parlemen pada hari Selasa, Senator Christopher Murphy mengatakan di media sosial bahwa pemerintah AS tidak memiliki rencana untuk Selat Hormuz dan “tidak tahu bagaimana cara membukanya kembali dengan aman.”

Menurut Times, para pejabat di dalam pemerintahan semakin pesimis tentang kurangnya strategi yang jelas dari Trump untuk mengakhiri perang, tetapi mereka tidak ingin menyampaikan hal itu secara langsung kepada Trump, yang telah berulang kali mengklaim bahwa perang tersebut sepenuhnya berhasil.

Sementara itu, Menteri Perang AS Pete Hegseth juga mengakui bahwa respons ganas Iran terhadap agresi tersebut dengan menyerang pangkalan-pangkalan AS di negara-negara Arab Teluk Persia sangat mengejutkan Pentagon.

“Saya tidak bisa mengatakan bahwa kami mengantisipasi persis bagaimana mereka akan bereaksi, tetapi kami tahu itu adalah sebuah kemungkinan,” kata Hegseth dalam konferensi pers Pentagon.

Semetara itu, dalam sebuah wawancara dengan Fox News, Trump menunjukkan rasa frustrasi yang semakin meningkat atas bagaimana perang tersebut mengganggu pasokan minyak secara global, mendesak awak kapal tanker minyak untuk “menunjukkan keberanian” dan berlayar melalui Selat Hormuz.

Lebih lanjut, Menurut Times, sejumlah penasihat militer AS telah memperingatkan sebelum dimulainya perang, bahwa Republik Islam dapat melancarkan kampanye balasan yang kuat, dan bahwa mereka akan memandang perang AS-Israel sebagai ancaman terhadap eksistensinya.

Seperti diberitakan, sejak agresi AS-Israel ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu, serta membunuh pemimpin tertinggi Ayatullah Sayyid Ali Khamenei dan sejumlah pejabat hingga masyarakat sipil tak berdosa, militer Iran terus melancarkan serangan balasan dan berhasil menargetkan banyak lokasi di wilayah Israel serta pangkalan militer AS di beberapa negara tetangga Iran.

Pilkada & Pilpres

INSTAGRAM

1 hour ago
2 hours ago
1 day ago
2 days ago
2 days ago
3 days ago

LAINNYA
x
x