Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar tampil pada konferensi internasional yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Arab Saudi secara daring pada Kamis, 2 April 2026. (Kemenag) TODAYNEWS.ID – Menteri Agama (Menag) Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, membawa misi besar dalam diplomasi keagamaan internasional. Di hadapan pemimpin delapan negara Islam, Menag Nasaruddin secara tegas mengampanyekan gagasan Ekoteologi sebagai jawaban atas krisis lingkungan yang kian mengkhawatirkan.
Pesan kuat ini disampaikan Menag dalam konferensi internasional yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Arab Saudi secara daring pada Kamis, 2 April 2026.
Jembatan Iman dan Pelestarian Alam
Dalam forum global tersebut, Nasaruddin menekankan bahwa fenomena pemanasan global bukan sekadar masalah teknis sains atau perubahan cuaca semata.
“Ini bukan sekadar krisis suhu, melainkan krisis nurani. Bukan hanya gangguan cuaca, tetapi gangguan pada sistem nilai dan perilaku manusia,” ujar Nasaruddin dari Jakarta.
Dia memperkenalkan konsep Ekoteologi sebagai pendekatan strategis yang mengintegrasikan tiga pilar utama: Iman, Ilmu, dan Amal. Menurutnya, menjaga bumi adalah bagian tak terpisahkan dari ibadah.
“Ekoteologi adalah panggilan moral untuk mengubah relasi manusia dengan alam, dari pola eksploitasi menuju amanah,” tegas Nasaruddin.
Dampak Situasi Regional
Sedianya, konferensi bergengsi ini dijadwalkan berlangsung secara tatap muka di Mekkah pada 1–4 April 2026. Namun, dinamika stabilitas di kawasan Timur Tengah yang belum menentu berdampak pada jadwal penerbangan internasional.
Alhasil, delapan negara peserta yang terdiri dari Indonesia, Arab Saudi, Pakistan, Maroko, Kuwait, Mesir, Yordania, dan Gambia sepakat untuk mengalihkan pertemuan menjadi format daring guna menjaga kelancaran dialog strategis ini.
Rumah Ibadah Sebagai Pelopor
Tidak hanya bicara teori, Nasaruddin juga mengajak negara-negara Islam untuk melakukan aksi nyata. Salah satu poin utamanya adalah menjadikan rumah ibadah sebagai contoh konkret perilaku hidup berkelanjutan.
Beberapa poin strategis yang diusung Indonesia dalam forum tersebut antara lain:
Kehadiran Nasaruddin yang didampingi oleh Tenaga Ahli Menteri Agama, Bunyamin M. Yapid, menegaskan posisi tawar Indonesia dalam diplomasi internasional. Indonesia tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi sebagai pembawa solusi moral atas tantangan kemanusiaan kontemporer.
Melindungi bumi, bagi Indonesia, bukan lagi pilihan yang bisa ditunda, melainkan sebuah kewajiban agama dan tanggung jawab moral kolektif penduduk dunia. ***