Ilustrasi bulan suci Ramadhan. (Pixabay) TODAYNEWS.ID – Menjelang penetapan ramadhan 1447 Hijriah/2026, banyak umat Islam menanyakan kapan awal bulan puasa dimulai. Pasalnya, hingga saat ini pemerintah masih belum menentukan kapan ramadhan tahun ini dimulai, khususnya bagi warga Kota Bandung.
Berikut penjelasan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Bandung.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Bandung Teguh Rahayu mengatakan, tim BMKG akan melakukan pengamatan atau rukyat hilal Ramadan 1447 H/2026 pada 17 dan 18 Februari 2026.
“Penentuan awal bulan Hijriah didasarkan pada peredaran bulan mengelilingi Bumi,” kata Kepala BMKG Stasiun Geofisika Bandung yang akrab disapa Ayu ini, Minggu (15/2/2026).
Ayu menjelaskan, BMKG sebagai institusi pemerintah berdasarkan amanat UU Nomor 31 tahun 2009 tentang Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, memiliki tugas dan fungsi salah satunya memberikan pelayanan data tanda waktu dalam penentuan awal Hijriah.
“Kami sampaikan informasi hilal saat matahari terbenam pada Selasa (17/2/2026) dan Rabu (18/2/2026) sebagai penentu awal Ramadhan tahun ini,” ujar Ayu.
Mekanisme pengamatan hilal penentu awal Qomariah (Hijriah) oleh BMKG dengan memanfaatkan teleskop atau teropong terkomputerisasi dan terhubung dengan teknologi informasi.
“Saat pengamatan, kecerlangan cahaya hilal akan direkam oleh detektor pada teleskop. Detektor otomatis mengikuti berubahnya posisi bulan di ufuk Barat,” tuturnya.
Dengan teknologi informasi, kata Ayu, data tersebut di kirim ke server di BMKG Pusat. “Data itu tersimpan dan tersebar luas secara online ke seluruh dunia melalui http://hilal.bmkg.go.id,” ucap Ayu.
Dia mengungkapkan, BMKG Stasiun Geofisika Bandung akan melakukan pengamatan hilal pada 17 Februari 2026 di Observatorium Albiruni Unisba.
Turut dalam pengamatan hilal itu, Kantor Wilayah Kementerian Agama Jabar, dan Badan Hisab Rukyat Daerah Jabar.
Kemudian pada 18 Februari 2026, BMKG Stasiun Geofisika Bandung bersama tim Observatorium Bosscha akan melaksanakan rukyat hilal di Observatorium Bosscha.
Pengamatan juga di laksanakan oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) BMKG di 37 lokasi seluruh Indonesia.
Antara lain, Aceh, Tapanuli Tengah, Medan, Deli Serdang, Tanjung Pinang, Lampung, Padang, Bengkulu, Tangerang, Bandung, Pekalongan, dan Yogjakarta.
Kemudian, Malang, Denpasar, Mataram, Gorontalo, Waingapu, Kupang, Alor, Balikpapan, Makassar, Gowa, Donggala, Manado, Kolaka, Ternate, Ambon, Sorong, dan Jayapura.