x

Indonesia Bangun Pusat Riset Rumput Laut di Lombok, Gandeng UC Berkeley dan BGI

waktu baca 3 menit
Sabtu, 14 Feb 2026 21:30 25 Azis Arriadh

TODAYNEWS.ID – Indonesia membangun pusat riset rumput laut dunia bernama International Tropical Seaweed Research Center (ITSRC) di kawasan Teluk Ekas, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Kehadiran Pusat Riset Rumput Laut ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat posisi Indonesia dalam industri kelautan global.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie menegaskan pentingnya penguatan riset rumput laut Indonesia sebagai bagian dari strategi nasional dan transformasi ekonomi pesisir. Menurutnya, riset menjadi fondasi utama agar Indonesia tidak sekadar menjadi pemasok bahan mentah.

“Fokus besar kami beberapa bulan terakhir adalah menjadikan Indonesia pusat rumput laut dunia, dan itu harus dimulai sekarang. Karena itu, kita membangun pusat riset bertaraf internasional dengan standar dan jejaring yang memang global,” kata Wamendiktisaintek melalui keterangan di Jakarta, Sabtu.

Wamen Stella menjelaskan dipilihnya area Teluk Ekas sebagai lokasi riset karena telah lama menjadi ruang hidup masyarakat pesisir, baik sebagai kawasan budidaya maupun tangkap. Selain itu, kawasan ini memiliki potensi besar untuk pengembangan berbasis ilmu pengetahuan.

Pusat riset ini diharapkan bisa meningkatkan hasil tangkapan dan kualitas budi daya dengan bibit rumput laut yang lebih unggul berbasis riset. Dengan demikian, produktivitas dan kesejahteraan masyarakat pesisir dapat meningkat secara berkelanjutan.

Stella menyoroti Indonesia saat ini adalah produsen rumput laut tropis terbesar di dunia, menguasai sekitar 75 persen pasar global. Dominasi ini menjadi modal kuat untuk naik kelas melalui inovasi dan hilirisasi.

“Nilai ekonomi rumput laut dunia mencapai 12 miliar Dolar Amerika Serikat (AS) per tahun, dan diperkirakan akan terus meningkat,” ujarnya.

Walaupun demikian, Stella menekankan posisi Indonesia di pasar global dinilai belum sepenuhnya diimbangi dengan penguatan riset dan hilirisasi di dalam negeri. Karena itu, pembangunan Pusat Riset Rumput Laut menjadi momentum penting untuk memperbaiki rantai nilai.

Ia menggarisbawahi bahwa Indonesia tidak boleh hanya menjadi produsen bahan mentah, melainkan menjadi pusat inovasi dan nilai tambah. Maka, ITSRC dirancang sebagai simpul kolaborasi nasional dan internasional.

“Kami bekerja sama dengan University of California, Berkeley, dan Beijing Genomics Institute dari China. Beijing Genomics Institute berkomitmen mendukung pendanaan Rp3 miliar untuk dua tahun pertama, termasuk peralatan dan peneliti. Kemdiktisaintek juga telah mengalokasikan Rp1,5 miliar untuk tahap awal,” ucap Stella Christie.

Diketahui, sejumlah fasilitas dalam pusat riset tersebut akan dibangun, di antaranya gedung penelitian, asrama bagi peneliti internasional, apotek, serta sarana pendukung lainnya. Fasilitas ini dirancang untuk mendukung standar riset global.

Adapun secara ekologis, Teluk Ekas memiliki sistem teluk tropis yang relatif terlindung, dengan arus dan sirkulasi air yang cukup baik. Kondisi ini menjadikannya ideal sebagai living laboratory untuk riset produktivitas, ketahanan iklim, dan pengembangan biomassa skala tropis.

Tidak hanya rumput laut Kappaphycus sebagai bahan baku karagenan, kawasan ini juga potensial untuk pengembangan jenis rumput laut Caulerpa, Ulva, dan Halymenia. Ke depan, penguatan Pusat Riset Rumput Laut ini diharapkan mampu mendorong hilirisasi industri dan memperkuat daya saing Indonesia di pasar global.

Pilkada & Pilpres

INSTAGRAM

7 hours ago
7 hours ago
1 day ago
1 day ago

LAINNYA
x
x