Anggota Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo. Foto: TODAYNEWS/DhanisTODAYNEWS.ID – Anggota Komisi IV DPR RI, Firman Soebagyo, mengatakan kehadiran Biosaka sebagai inovasi pertanian berbasis bahan alami, dinilai memiliki potensi besar untuk memperkuat kemandirian petani sekaligus mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.
“Biosaka itu bukan pupuk dalam pengertian konvensional, tetapi larutan alami dari remasan daun dan rumput liar sehat yang berfungsi sebagai elisitor,” kata Firman, mengutip keterangannya, Sabtu (10/1/2026).
Firman mengungkapkan, bahwa Biosaka pernah diperkenalkan secara luas dalam kegiatan bimbingan teknis Kementerian Pertanian (Kementan) beberapa tahun lalu, melalui Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, yang sejak saat itu terus memantik diskusi di kalangan petani maupun peneliti.
Firman menjelaskan Biosaka dapat memicu tanaman membentuk metabolit sekunder dan fitoaleksin, sehingga tanaman menjadi lebih kuat, lebih tahan, dan produktivitasnya meningkat.
“Dari penjelasan para narasumber waktu itu, Biosaka bahkan mampu menekan penggunaan pupuk kimia hingga 50 sampai 90 persen, dan ini bukan angka kecil dalam konteks pertanian nasional,” ungkap Firman.
Ia menjelaskan, Biosaka bekerja dengan cara yang relatif sederhana dan murah. Petani cukup memanfaatkan sumber daya hayati di sekitar lahannya, seperti daun dan rumput liar yang sehat, lalu meremasnya di dalam air hingga sari alaminya keluar, disaring, dan diaplikasikan ke tanaman.
Metode ini, menurutnya, membuat Biosaka mudah diadopsi, terutama oleh petani kecil yang selama ini terbebani biaya produksi tinggi akibat pupuk kimia.
“Di situlah letak kekuatan Biosaka. Ia lahir dari pengetahuan lapangan, dari praktik petani sendiri, bukan dari pabrik kimia,” tegas legislator asal Pati, Jawa Tengah itu.
Lebih lanjut, Politikus senior Partai Golkar itu mengatakan bahwa pemerintah harus menangkap kehadiran Biosaka sebagai peluang strategis untuk membuat sektor pertanian berdaulat.
“Ketika petani bisa memproduksi sendiri penguat tanamannya, maka kedaulatan pertanian itu mulai terbentuk. Negara seharusnya menangkap ini sebagai peluang strategis,” jelasnya.
Lebih jauh, Firman mengakui bahwa Biosaka memang telah menunjukkan hasil positif di lapangan. Sejumlah demplot dan uji coba, termasuk yang dilakukan Kementan, memperlihatkan peningkatan produksi dengan pengurangan signifikan dosis pupuk anorganik.
Ia menyebut, hasil percobaan di kedelai menunjukkan produksi bisa mencapai 1,6 hingga 2,4 ton per hektar hanya dengan penggunaan NPK 50 persen dari dosis anjuran yang dikombinasikan dengan Biosaka.
“Fakta-fakta lapangan ini tidak bisa diabaikan. Bahkan Biosaka sudah mendapat pengakuan dari Museum Rekor Indonesia. Tetapi saya juga memahami sikap pemerintah dan para ilmuwan yang masih terus mengkaji. Karena dalam dunia ilmu pengetahuan, setiap inovasi harus diuji secara ketat, dibedah mekanismenya, dan distandarkan agar aman, konsisten, hingga bisa diterapkan secara nasional,” pungkasnya.