x

Festival Balon Pekalongan 2026: Tradisi Syawalan Hiasi Langit Kota

waktu baca 3 menit
Sabtu, 28 Mar 2026 20:41 34 Azis Arriadh

TODAYNEWS.ID – Langit Kota Pekalongan dipenuhi warna-warni balon udara dalam gelaran Festival Balon Tambat 2026, pagi ini. Event tahunan ini kembali menyedot perhatian ribuan warga yang antusias menyaksikan kreativitas 40-an tim balon tambat di Stadion Hoegeng Kota Pekalongan.

Sesuai namanya, balon udara yang diterbangkan dalam festival ini dipasang tali penambat. Dengan demikian, balon tetap terkendali dan tidak bergerak liar hingga membahayakan penerbangan.

Salah satu peserta, Tengok Tim asal Kelurahan Sapuro, Udin, mengusung tema Javanese Culture dengan mengangkat tokoh pewayangan seperti Gatotkaca dan Srikandi. Perwakilan tim mengaku telah mengikuti festival sejak pertama kali digelar.

“Dari awal ada festival di Pekalongan sampai sekarang alhamdulillah tidak pernah absen,” ujarnya, Sabtu (28/3/2026).

Untuk tahun ini, Tengok Tim menargetkan hasil maksimal setelah sebelumnya meraih juara dua. Proses pembuatan balon pun tidak mudah dan membutuhkan ketelitian tinggi.

“Super rumit, pembuatannya sampai dua bulan,” katanya.

Selain Tengok Tim, tim Pecinta Seni Degayu (Peseni) juga tampil dengan konsep budaya khas Kota Pekalongan. Mereka mengangkat tema batik sebagai identitas daerah, lengkap dengan ikon-ikon kota.

“Kami ingin menceritakan keindahan Kota Pekalongan lewat balon ini, terutama batiknya supaya semakin dikenal luas,” ujar Muhammad Taufiq dari tim Peseni.

Ia mengungkapkan proses pembuatan balon membutuhkan waktu hingga empat bulan dengan delapan orang dalam satu tim.

“Kadang sampai dua hari tidak tidur demi menyelesaikan balon,” tambahnya.

Wali Kota Pekalongan, Afzan Arslan Djunaid, mengapresiasi tingginya antusiasme masyarakat dalam festival tahun ini. Menurutnya, kreativitas peserta terus meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Festival Balon 2026 ini sangat luar biasa, lebih kreatif dan variatif. Pesertanya juga semangatnya luar biasa,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti munculnya balon dengan motif tokoh-tokoh ataupun super hero pewayangan yang semakin beragam.

“Kalau saya jadi juri, bingung menentukan pemenangnya. Karena penilaian bukan hanya motif, tapi juga kekompakan tim, diameter balon, dan kesempurnaan saat terbang,” jelasnya.

Afzan berharap festival ini terus berkembang dan mampu menekan tradisi balon udara liar yang berbahaya. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan menjadi ajang pelestarian budaya dan kreativitas masyarakat. Ia berharap dengan adanya festival balon ini mengurangi bahkan menghilangkan balon udara liar di puncak syawalan.

Dengan cuaca cerah dan angin yang relatif tenang, hampir seluruh balon berhasil mengudara dengan sempurna. Kondisi ini semakin menambah semarak langit Pekalongan dalam festival yang kian menjadi kebanggaan daerah tersebut.

Efektif Tekan Balon Udara Liar

Festival balon udara tambat terbukti cukup efektif dalam menangkal balon liar. Penerbangan balon liar di tahun ini tercatat menurun cukup signifikan dibanding sebelumnya.

Direktur Keselamatan AirNav Indonesia, Nurcahyo Utomo, mengatakan pada tahun 2025, tercatat 51 laporan pilot terkait balon udara, sementara tahun ini turun menjadi 22 laporan. Balon liar tersebut tidak hanya muncul di Jawa Tengah, tetapi juga di Jawa Timur, termasuk wilayah Pekalongan, Wonosobo, dan sekitar Surabaya.

“Dua hari terakhir tanggal 26 dan 27 (Maret) tidak ada laporan pilot. Jadi terakhir laporan diterima pada tanggal 25 (Maret), total 21 untuk tahun ini. Kalau tahun lalu 51 (balon liar), hari ini 21, mudah-mudahan tidak bertambah,” ungkap Nurcahyo ditemui di Stadiun Hoegeng Kota Pekalongan.

Ia menyebut wilayah udara di atas Pekalongan merupakan jalur penerbangan padat yang dikenal sebagai jalur W45 (Whiskey Four Five). Jalur ini dilalui pesawat dari berbagai rute, mulai dari Semarang, Surabaya, hingga wilayah timur Indonesia.

“Jadi pesawat yang terbang ke Semarang, Surabaya, Solo, Makassar, Bali, Nusa Tenggara, akhirnya kalau Makassar sampai ke Sulawesi sampai ke Papua itu semuanya lewat di atas Kota Pekalongan. Jadi ini jalur yang paling padat di Indonesia,” ungkapnya.

Karena itu, AirNav Indonesia sangat mengharapkan masyarakat dapat menghentikan aksi menerbangkan balon liar ke udara. Selain membahayakan, aktivitas tersebut juga berpotensi mengganggu arus lalu lintas penerbangan.

“Tradisi budaya yang baik harus dijaga dan dilestarikan. Tapi, bukan yang membahayakan,” tambahnya.

Pilkada & Pilpres

INSTAGRAM

5 hours ago
5 hours ago
2 days ago
4 days ago
4 days ago
5 days ago

LAINNYA
x
x