Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan. (Todaynews.id) TODAYNEWS.ID – Pemerintah Kota Bandung menegaskan arah pembangunan sektor pariwisata tidak ditempatkan sebagai mesin fiskal jangka pendek, melainkan sebagai industri strategis jangka panjang yang harus dibangun secara bertahap, terukur, dan berkelanjutan.
Penegasan tersebut disampaikan Muhammad Farhan dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-55 Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita). Selama ini, Asita menjadi salah satu mitra utama Pemkot Bandung dalam pengembangan sektor pariwisata.
Farhan menyampaikan, pemerintah daerah tidak boleh terjebak pada pendekatan sempit yang hanya mengejar peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), tanpa memperhatikan kesiapan dan kekuatan industri pariwisata itu sendiri.
“Kami harus membesarkan dulu kapasitas industri dan merealisasikan potensi yang ada. Kalau industrinya sudah kuat, barulah kita bicara bagaimana peluang itu menjadi PAD,” ujarnya di Hutanika, Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Rabu, 7 Januari 2026.
Menurut Farhan, pariwisata merupakan sektor yang sangat bergantung pada ekosistem. Apabila salah satu unsur, baik infrastruktur, layanan, maupun pelaku usaha tidak siap, maka dampaknya akan merugikan seluruh rantai industri.
Ia memastikan, Pemkot Bandung memilih pendekatan pembangunan pariwisata yang menempatkan pemerintah di posisi fasilitator dan regulator, bukan semata-mata sebagai penarik manfaat fiskal.
“Pemerintah itu posisinya di ujung. Jangan di depan. Kalau di depan hanya mikir PAD, industrinya bisa rusak,” tuturnya.
Dalam konteks ini, Pemkot Bandung menargetkan pertumbuhan potensi pariwisata sebesar 20 persen. Target tersebut tidak semata diukur dari jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga dari kualitas belanja wisata, lama tinggal, serta dampak ekonomi terhadap pelaku usaha lokal.
“Kalau potensi tumbuh 20 persen, pelaku industri akan happy, wisatawan happy. Dari situ manfaatnya akan kembali ke kota,” katanya. ***