Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Achmad Setiyo Prabowo, menyampaikan sambutan saat membuka Rapat Koordinasi Wilayah Kerja (Rakorwil) Kantor Otoritas Bandar Udara (KOBU) Wilayah IV Tahun 2026 di Labuan Bajo, 27–28 Januari 2026. (Foto: Istimewa) TODAYNEWS.ID – Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Achmad Setiyo Prabowo, secara resmi membuka Rapat Koordinasi Wilayah Kerja (Rakorwil) Kantor Otoritas Bandar Udara (KOBU) Wilayah IV Bali Tahun 2026 yang digelar di Labuan Bajo pada 27–28 Januari 2026. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi pengelolaan transportasi udara di kawasan Bali dan Nusa Tenggara.
Acara Rakorwil KOBU IV ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari perwakilan Pemerintah Daerah Bali, NTB, dan NTT, TNI AU, PT Angkasa Pura Indonesia, AirNav Indonesia, hingga pimpinan Badan Usaha Angkutan Udara. Kehadiran lintas sektor tersebut menunjukkan bahwa konektivitas udara tidak bisa dibangun secara parsial, melainkan harus melalui kolaborasi menyeluruh.
Mewakili Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Setiyo menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat konektivitas transportasi udara yang selamat, aman, dan nyaman, khususnya di wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Rakorwil KOBU IV tahun ini pun mengusung tema “Kolaborasi Rencana Strategis Pemerintah, Pemerintah Daerah, Badan Usaha Penerbangan dan Peningkatan Kompetensi Personel Penerbangan Guna Memperkuat Konektivitas yang Selamat, Aman, dan Nyaman di Wilayah Kerja KOBU IV”.
Dalam sambutannya, Achmad Setiyo Prabowo mengungkapkan bahwa hingga tahun 2025 industri penerbangan menunjukkan indikator positif, ditandai dengan peningkatan trafik penumpang, pesawat, serta penambahan rute dan operator. Namun, pertumbuhan tersebut sekaligus menghadirkan tantangan yang semakin kompleks.
“Kita dihadapkan pada keterbatasan armada, dinamika harga tiket, pengelolaan ruang udara, hingga kebutuhan akan keandalan infrastruktur bandara dan peningkatan kompetensi SDM penerbangan,” ujar Setiyo.
Meski begitu, Ditjen Hubud tetap menegaskan komitmen untuk mengedepankan prinsip Safety, Security, Services, dan Compliance (3S+1C) dalam setiap kebijakan yang diambil.
Dalam Rakorwil KOBU IV, Ditjen Hubud juga memaparkan sejumlah isu strategis periode 2025–2029. Salah satu target utama adalah On Time Performance (OTP) yang ditetapkan mencapai 85% pada 2029. Selain itu, pengembangan infrastruktur diarahkan untuk mendukung sentra produksi pangan, energi, dan air nasional di Wanam, Papua Selatan.
Penguatan kelembagaan juga menjadi perhatian, yakni melalui pemisahan fungsi regulator dan operator guna memperkuat tata kelola sektor penerbangan. Di sisi lain, pemenuhan standar keselamatan dan keamanan penerbangan secara berkelanjutan tetap menjadi prioritas utama dalam mendukung pertumbuhan trafik.
Pada kesempatan tersebut, Setiyo menyampaikan instruksi khusus dari Direktur Jenderal Perhubungan Udara kepada seluruh pemangku kepentingan di wilayah KOBU IV. Instruksi ini menitikberatkan pada peningkatan mitigasi keselamatan saat cuaca buruk, penyusunan contingency plan demi mencapai target zero accident dan zero fatality, serta peningkatan kualitas pelayanan publik.
Selain itu, kesiapan pelaksanaan angkutan Mudik Lebaran juga menjadi perhatian penting agar operasional berjalan lancar.
“Saya berharap, rakor ini menjadi forum strategis untuk menyelaraskan kebijakan pusat dan daerah, serta merumuskan langkah konkret demi memastikan konektivitas udara yang berkelanjutan,” tegas Setiyo.
Sementara itu, Kepala Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah IV, Cecep Kurniawan, mengungkapkan bahwa sepanjang 2025 wilayah Bali–Nusra mencatat pertumbuhan trafik yang signifikan. Total trafik penumpang domestik dan internasional mencapai 29.391.427 orang atau meningkat 2% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan kontribusi 17,79% terhadap total trafik nasional.
Rakorwil KOBU IV tidak hanya membahas kebijakan strategis, tetapi juga menyelenggarakan organisasi pembelajaran bagi teknisi penerbangan dan personel lainnya.
“Peningkatan trafik harus diimbangi dengan kesiapan infrastruktur dan kompetensi SDM agar transportasi udara yang selamat, aman, dan nyaman benar-benar terwujud,” ujar Cecep Kurniawan.