x

INDEF: 22 Persen UMKM Mengaku Usahanya Tertekan Program MBG

Laporan: Afrizal Ilmi

waktu baca 3 menit
Selasa, 20 Okt 2026 18:57 7

TODAYNEWS.ID — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) belum memberikan manfaat ekonomi secara merata kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kajian Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menemukan 22 persen UMKM yang disurvei justru melaporkan penurunan kegiatan usaha akibat program tersebut.

Sebaliknya, hanya 5 persen responden yang mengaku mengalami peningkatan usaha. Temuan ini menunjukkan jangkauan program pemerintah belum sejalan dengan keterlibatan dan manfaat ekonomi yang dirasakan pelaku usaha lokal.

Ekonom INDEF sekaligus Kepala Peneliti, Dzulfian Syafrian, mengatakan kondisi tersebut mengindikasikan adanya pergeseran permintaan dan pemusatan manfaat ekonomi pada kelompok pelaku usaha tertentu. Dampak ekonomi yang diharapkan dari program MBG dan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih juga dinilai belum menjangkau UMKM secara luas.

“Temuan ini mengindikasikan terjadinya substitusi permintaan dan terkonsentrasinya manfaat ekonomi pada pelaku tertentu, serta minimnya efek tetesan (trickle-down effect) dari kedua program ini,” jelas Dzulfian dalam keterangannya yang dikutip Selasa (20/10/2026).

Kajian tersebut dilakukan melalui survei tatap muka terhadap 1.806 responden UMKM formal dan informal di seluruh Indonesia pada Agustus 2026. Hasilnya memperlihatkan bahwa meskipun program MBG telah dikenal luas, partisipasi pelaku usaha dalam rantai pasoknya masih terbatas.

Sebanyak 97 persen responden mengaku mengetahui program MBG. Program tersebut juga telah hadir di 92 persen desa atau kelurahan tempat responden berada.

Namun, tingkat keterlibatan UMKM dalam kemitraan masih rendah. Hanya 5 persen UMKM formal dan 1 persen UMKM informal yang telah bermitra atau menjajaki kemitraan dengan program tersebut.

Partisipasi UMKM dalam Kopdes Merah Putih bahkan tercatat lebih rendah. Kondisi ini memperlihatkan adanya kesenjangan antara luasnya jangkauan program pemerintah dan kesempatan yang tersedia bagi pelaku usaha di tingkat lokal.

Dzulfian juga mengungkapkan sekitar 80 persen UMKM belum melihat peluang usaha baru yang tercipta dari kedua program tersebut. Hal ini menjadi indikasi bahwa efek pengganda ekonomi atau multiplier effect belum dirasakan secara luas oleh pelaku usaha kecil.

INDEF menilai efektivitas MBG dan Kopdes Merah Putih tidak cukup diukur berdasarkan besarnya anggaran maupun luasnya cakupan penerima manfaat. Pemerintah perlu memastikan UMKM lokal memiliki akses nyata untuk memasok kebutuhan program agar perputaran ekonomi turut dinikmati masyarakat di sekitar lokasi pelaksanaan.

Salah satu langkah yang direkomendasikan adalah memperluas akses pengadaan agar lebih inklusif bagi UMKM lokal. Pemerintah juga perlu menyederhanakan prosedur dan skala pengadaan, memberikan kepastian pembayaran kepada pemasok, serta mengembangkan pembiayaan berbasis kontrak.

Dalam skema tersebut, Kopdes Merah Putih dinilai dapat berperan sebagai agregator produksi dan distribusi lokal. Koperasi juga dapat menjadi penghubung antara UMKM dan rantai pasok dapur MBG sehingga produk pelaku usaha setempat memiliki akses pasar yang lebih terstruktur.

INDEF turut mendorong keterbukaan data mengenai kebutuhan pasokan setiap dapur MBG dan Kopdes. Informasi tersebut dapat membantu UMKM mengetahui jenis barang yang dibutuhkan sekaligus menyesuaikan kapasitas produksi dengan permintaan.

Pemerintah juga disarankan menetapkan target belanja dari UMKM lokal dan menerbitkan kontrak berjangka standar. Kontrak tersebut diharapkan dapat digunakan pemasok sebagai dasar untuk mengajukan pembiayaan guna memenuhi pesanan.

Di sisi lain, UMKM informal perlu memperoleh jalur untuk meningkatkan skala usaha agar mampu memenuhi persyaratan kemitraan. Pemerintah juga perlu memitigasi persaingan dengan usaha yang sudah berjalan agar pelaksanaan program tidak mengurangi pendapatan pedagang kecil.

Salah satu opsi yang diusulkan adalah melibatkan kantin sekolah sebagai mitra dapur MBG dan menjadikan Kopdes Merah Putih sebagai grosir bagi warung. Skema ini diharapkan dapat menjaga keberlangsungan usaha yang telah ada sekaligus memperluas distribusi barang melalui jaringan UMKM lokal.

Dzulfian menegaskan, penguatan keterlibatan pelaku usaha lokal menjadi salah satu kunci agar manfaat ekonomi kedua program dapat menjangkau lebih banyak pihak. “Jika rekomendasi ini dilakukan, dampak ekonomi MBG dan Kopdes Merah Putih dapat tersebar secara lebih luas dan merata,” tandasnya.

 

Editor: Aziz Arriadh

Tag Terkait

Pilkada & Pilpres

LAINNYA