Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Ali Khamenei. Foto: Pars Today TODAYNEWS.ID – Pemimpin Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, menanggapi ancaman militer Amerika Serikat (AS) yang berulang kali mengancam kedaulatan Iran.
Khamenei menegaskan bahwa serangan Iran dapat menenggelamkan kapal-kapal induk Amerika dan menurutnya serangan militer negaranya lebih berbahaya dari pada serangan Washington.
Pernyataan itu ditegaskan Khamenei usai Presiden AS Donald Trump kembali mengancam Iran dengan mengerahkan Kapal Induk kedua ke Timur Tengah, pada saat kedua negara sedang menjalani perundingan nuklir di Jenewa, Swiss.
“Presiden Amerika (Donald Trump) berulang kali mengatakan bahwa militer mereka adalah yang terkuat di dunia. Namun, militer terkuat di dunia pun terkadang bisa dihantam begitu keras sehingga bahkan tidak mampu bangkit kembali,” kata Khamenei pada dalam pidatonya, Selasa (17/2/2026).
“Mereka terus mengatakan, ‘Kami telah mengirimkan kapal induk ke arah Iran.’ Baik—kapal induk memang merupakan peralatan yang berbahaya. Tetapi yang lebih berbahaya daripada kapal induk itu sendiri adalah senjata yang mampu menenggelamkannya ke dasar laut,” tambah Rahbar menegaskan.
Khamenei menyebut pernyataan Trump yang menyatakan bahwa Washington tidak mampu melenyapkan Republik Islam Iran selama 47 tahun terakhir memiliki makna bahwa AS memang tidak mampu melakukan itu di masa depan.
“Selama 47 tahun, Amerika telah gagal menghancurkan Republik Islam. Saya katakan ini: Anda juga tidak akan mampu melakukannya di masa depan,” tegas Khamenei.
Seperti diberitakan, Donald Trump telah memerintahkan pengiriman kapal induk terbesar dunia, USS Gerald R. Ford beserta alutsista tempurnya ke kawasan Timur Tengah sebagai respons atas meningkatnya ketegangan dengan Iran terkait program nuklir dan rudal balistik.
Kapal induk tersebut akan bergabung dengan kelompok serang kapal induk USS Abraham Lincoln yang sudah berada lebih dahulu di wilayah Teluk Persia.
Pengiriman USS Gerald R. Ford diumumkan setelah putusan Trump dan pertemuan dengan Benjamin Netanyahu, sebagai bagian dari kampanye tekanan militer dan diplomatik terhadap Teheran.