Sejumlah warga di Sudan sedang mengantre untuk mendapatkan bantuan pangan. (Foto: Istimewa) TODAYNEWS.ID – Mesir mengecam keras serangan terhadap bantuan kemanusiaan di Sudan yang berulang kali menargetkan konvoi bantuan, fasilitas medis, serta warga sipil yang mengungsi. Pemerintah Mesir menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional.
Dalam pernyataan resminya, Egyptian Ministry of Foreign Affairs mengecam apa yang disebut sebagai “serangan brutal berulang” terhadap konvoi bantuan dan fasilitas kesehatan di Sudan. Pemerintah Mesir memperingatkan bahwa serangan semacam itu tidak hanya menghambat distribusi bantuan, tetapi juga memperburuk “bencana kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya” yang sedang melanda negara tersebut.
Kementerian itu merujuk pada serangan drone terbaru yang menyasar konvoi bantuan yang berafiliasi dengan World Food Programme di Negara Bagian Kordofan Utara, Sudan. Serangan tersebut menewaskan seorang pekerja kemanusiaan dan melukai beberapa lainnya. Selain itu, insiden serupa di wilayah yang sama juga dilaporkan menyebabkan sedikitnya 24 orang tewas.
Menurut pernyataan tersebut, berulangnya pelanggaran dalam serangan itu turut memperdalam krisis kemanusiaan yang sudah sangat parah, di tengah meningkatnya angka pengungsian dan memburuknya ketahanan pangan. Oleh karena itu, Mesir menegaskan pentingnya memastikan distribusi bantuan kemanusiaan dapat berjalan tanpa hambatan bagi rakyat Sudan.
Mesir juga menyerukan terciptanya kondisi yang kondusif untuk meringankan penderitaan warga sipil serta memulihkan stabilitas nasional. Pemerintah menekankan pentingnya menghentikan eskalasi konflik dan melindungi seluruh operasi kemanusiaan di berbagai wilayah Sudan.
Sejak pertengahan April 2023, Sudan terjerat konflik antara Sudanese Armed Forces dan kelompok paramiliter Rapid Support Forces. Konflik tersebut telah merenggut puluhan ribu nyawa serta menyebabkan jutaan orang mengungsi, baik di dalam negeri maupun ke luar negeri, sehingga memicu salah satu krisis kemanusiaan terburuk di Sudan.