Anggota Komisi X DPR RI, Habib Syarief Muhammad. Dok. F-PKB DPR RI TODAYNEWS.ID – Anggota Komisi X DPR RI, Habib Syarief Muhammad menyebut fasilitas pendidikan tidak merata disebabkan ketidakkonsistenan pemerintah menjalankan mandatory spending pendidikan sebesar 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Ketidakkonsistenan anggaran membuat pendidikan kita tidak merata,” kata Habib Syarief dalam keterangannya, Jumat (6/2/2026).
Habib Syarief mengatakan pemerintah pusat dan daerah harus berkomitmen memenuhi kebutuhan dasar anak khusus pendidikan hingga ke kawasan Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T).
“Harus ada komitmen bersama antara pusat dan daerah agar kebutuhan dasar anak untuk belajar terpenuhi di seluruh pelosok negeri,” ujar Habib Syarief.
Habib Syarief mengingatkan pemerintah agar kasus serupa tidak terulang. Oleh karenanya, ia mendorong agar pemerintah lebih memperhatikan warganya yang berada di kawasan 3T.
“Jangan sampai ada lagi anak yang kehilangan nyawa karena persoalan alat tulis,” kata Habib Syarief.
Habib Syarief menekankan, bahwa program kebutuhan dasar anak sekolah harus dipersiapan dengan baik dan tepat sasaran.
“Program pemenuhan kebutuhan dasar seperti buku dan alat tulis harus disiapkan secara sistematis,” kata Habib Syarief.
Habib Syarief mengatakan, pemerintah perlu mendata seluruh kebutuhan pendidikan masyarakat yang berada di kawasan 3T.
“Pemerintah wajib memiliki peta pendidikan yang akurat dan pendataan utuh terkait kebutuhan riil di kawasan 3T,” jelas Habib Syarief.
Peristiwa tragis ini bermula ketika YBS meminta ibunya, MGT, untuk membeli buku dan pena. Permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi karena keterbatasan ekonomi keluarga.
Berdasarkan penyelidikan Polres Ngada, YBS sempat menulis surat perpisahan dalam bahasa daerah Ngada. Dalam surat itu, ia meminta sang ibu merelakan kepergiannya dan tidak menangis.