Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Evita Nursanty. Foto: Istimewa TODAYNEWS.ID – Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Evita Nursanty menyoroti masih tingginya ketergantungan industri farmasi dalam negeri terhadap bahan baku obat yang berasal dari luar negeri dengan persentase 95 persen.
Hal ini terungkap dalam paparan Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kementerian Perindustrian saat rapat bersama Komisi VII DPR di PT Biofarma, Bandung, Jawa Barat, Kamis (29/1/2026).
Evita menilai kondisi ini menjadi tantangan serius bagi kemandirian dan ketahanan sektor kesehatan nasional.
“Ya kita miris juga ya. Ketergantungan daripada bahan baku, Daripada industri farmasi kita ini sangat tinggi sebesar 95 persen,” kata Evita mengutip, Sabtu (31/1/2026).
Menurut Evita, hal ini menjadi perkerjaan rumah (PR) bagi pemerintah dan otoritas terkait untuk membuat obat mengunakan bahan baku dari dalam negeri.
“Ini PR bagi kita. Bagaimana ini? Kenapa sih kita gak bisa membuat industri ya kan bahan baku itu sendiri,” ucap Evita.
Karena ini kata Evita, situasi ini menjadi pekerjaan rumah besar yang harus segera dijawab melalui kebijakan industrialisasi yang terarah dan berkelanjutan.
Untuk itu, Evita berharap Danantara dapat memikirkan investasi yang bergerak pada sektor industri bahan baku guna mengurangi ketergantungan impor dan Indonesia tidak berada dalam posisi rentan terhadap gangguan pasokan global.
“Kalau saya bisa beri usulan, bukan pabrik tekstil yang dibutuhkan Indonesia saat ini, Indonesia membutuhkan industri untuk memproduksi bahan baku. Nah Danantara diminta konsentrasi deh untuk membangun industri bahan baku itu di Indonesia karena ketergantungan kita yang sangat-sangat luar biasa,” tegas Evita.
Oleh karena itu, DPR mendorong agar industri farmasi, khususnya bahan baku obat, masuk dalam kategori program strategis nasional.
“Saya minta ini menjadi industri program strategis nasional. Dari Bapak Presiden, bagaimana juga kita ini, kebutuhan-kebutuhan yang berkaitan dengan kesehatan ini juga kita memiliki kemandirian dalam hal ini lagi-lagi kembali ke bahan baku, kan begitu,” pungkasnya.