Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago. Istimewa TODAYNEWS.ID – Isu reshuffle kabinet jilid 5 dikabarkan akan segera dilangsungkan oleh Presiden Prabowo Subianto. Salah satu menteri yang disebut-sebut bakal dirombak adalah Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono.
Menangggapi itu, Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago, menilai jabatan Menlu tidak cocok diemban oleh Sugiono lantaran kerap mendapatkan kiritikan keras dari pendahulunya, Mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI Dino Patti Djalal atas langkah RI di panggung politik dunia.

“Ya kalau kita melihat kinerja Menlu Sugiono, tentu kita berkaca juga dengan bagaimana banyaknya kritikan kepada Menlu Sugiono. Itu kan juga disebabkan juga oleh Dino Patti Djalal beberapa kali mengkritik Menlu Sugiono,” kata Arifki saat dihubungi TODAYNEWS, Kamis (29/1/2026).
Terutama soal langkah bergabungnya Indonesia dengan Dewan Perdamaian bentukan Presiden AS Donald Trump yang dinilai melenceng dari tujuan perdamaian dan bertentangan dengan kepentingan nasional hingga melanggar hukum internasional.
“Ini kan yang terbaru soal gabungnya Indonesia dengan lembaga bentukan Trump,” ucapnya.
Namun, Arifki mengatakan bahwa dirinya tidak ingin mengupas dari ranah tersebut. Ia menilai isu bakal digantinya Sugiono dari jabatan Menlu lebih dikarenakan posisinya saat ini yang menjabat sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Gerindra.
“Dan saya tentu melihat dalam konteks yang lain. Jadi memang pergeseran dari Menlu Sugiono ke pos yang lain ini mungkin juga pertimbangan lain, apakah biar Menlu Sugiono juga fokus dalam isu-isu dalam negeri,” ujarnya.
Sebab, menurutnya, seseorang yang ditugaskan untuk menjadi Sekjen partai politik, maka jabatan Menlu sebenarnya tidak cocok untuk Sugiono, karena dua jabatan tersebut sejatinya bertentangan.
“Karena kan posisi beliau juga menjadi sekjen Partai Gerindra. Kalau misalnya, ibaratnya kan kerja Menlu dengan sekjen Partai Gerindra sangat berbeda. Ibaratnya kalau Menlu akan sering berurusan dengan hal yang di luar, sedangkan sekjen Partai Gerindra ini kan internal dalam negeri,” pungkasnya.
Lebih lanjut, Arfiki juga menilai, Gerindra sebagai partai penguasa tentu tidak membiarkan Sugiono direshuffle tanpa mendapatkan jabatan kembali, ia memprediksi bahwa Sugiono akan ditempatkan pada pos Kementerian/Lembaga strategis lainnya.
“Ya artinya kalau kita melihat apakah dengan pertukaran posisi dengan partai lain, kan ada berapa, tentu Gerindra sebagai partai penguasa juga akan mengambil posisi strategis ya,” tandasnya.