x

TNI AU Siagakan RSAU dr. Dody Sardjoto Jadi Posko Identifikasi Korban Pesawat ATR 42-500

waktu baca 3 menit
Senin, 19 Jan 2026 14:15 28 Akbar Budi

TODAYNEWS.ID – TNI Angkatan Udara melalui Lanud Sultan Hasanuddin menyiagakan Rumah Sakit Angkatan Udara (RSAU) dr. Dody Sardjoto sebagai posko Tim Disaster Victim Identification (DVI) untuk mendukung proses identifikasi korban pesawat ATR 42-500, Minggu (18/1/26).

Komandan Lanud Sultan Hasanuddin Marsma TNI Arifaini Nur Dwiyanto mengatakan keterlibatan RSAU dr. Dody Sardjoto merupakan wujud komitmen TNI AU dalam mendukung proses kemanusiaan setelah evakuasi selesai dilakukan di lapangan.

“Setelah korban berhasil dievakuasi dari lokasi jatuhnya pesawat, TNI AU menyiagakan RSAU dr. Dody Sardjoto sebagai posko Tim DVI untuk mendukung proses identifikasi korban bersama instansi terkait,” ujar Komandan Lanud dalam keterangannya, Senin (19/1/2026).

Dalam operasionalnya, RSAU dr. Dody Sardjoto akan bersinergi dengan Polri, Basarnas, pemerintah daerah, serta berbagai pihak terkait agar seluruh tahapan identifikasi berjalan cepat, akurat, dan sesuai standar internasional DVI.

TNI Angkatan Udara memastikan akan terus hadir dalam operasi kemanusiaan, tidak hanya pada tahap pencarian dan evakuasi, tetapi juga pada penanganan lanjutan untuk memberikan kepastian bagi keluarga korban.

Tim SAR gabungan berhasil menemukan titik koordinat jatuhnya pesawat ATR 42-500 di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Serpihan pesawat ditemukan di area pegunungan dengan ketinggian sekitar 1.300 meter di atas permukaan laut.

Berdasarkan dokumentasi yang beredar, puing pesawat ditemukan di beberapa titik koordinat. Salah satunya berada pada koordinat 4°55’44,503″ LS – 119°44’50,127″ BT dengan ketinggian 1.393 MDPL. Serpihan lain ditemukan tidak jauh dari lokasi pertama. Titik tersebut berada pada koordinat 4°55’44,37″ LS – 119°44’50,008″ BT dengan ketinggian 1.389 MDPL.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar, Muhammad Arif Anwar, menjelaskan serpihan pertama ditemukan pada pukul 07.46 Wita. Temuan awal tersebut berupa bagian jendela pesawat dengan ukuran kecil. Tiga menit kemudian, tim SAR kembali menemukan bagian badan pesawat dengan ukuran lebih besar. Penemuan itu terjadi pada pukul 07.49 Wita di sekitar lereng lokasi kejadian.

“Pada pukul 07.52 WITA, tim kembali memperoleh informasi bahwa bagian pundak pesawat telah terbuka serta ditemukan bagian ekor pesawat,” ujar Arif dalam keterangannya, Minggu (18/1/2026). Ia menyebut bagian ekor pesawat berada di sisi selatan lereng bawah lokasi kejadian.

Selanjutnya pada pukul 08.02 Wita, serpihan besar kembali terpantau oleh SRU AJU. Pemantauan dilakukan melalui udara menggunakan helikopter Caracal. Pada pukul 08.11 Wita, tim SAR menyampaikan kebutuhan peralatan tambahan. Peralatan mountaineering atau climbing dinilai diperlukan untuk menjangkau medan yang terjal.

“Penemuan serpihan pesawat ini menjadi clue penting dalam mempersempit area pencarian,” kata Arif. Ia menyebut fokus tim saat ini pada pengamanan lokasi, pendataan temuan, dan penyesuaian taktik operasi.

Pesawat Alami Controller Flight Into Terrain

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyatakan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport yang hilang kontak menabrak lereng Gunung Bulusaraung. KNKT mengatakan pesawat itu mengalami Controller Flight Into Terrain (CFIT).

“Jadi memang pesawat nabrak bukit atau lereng (gunung), sehingga terjadi beberapa pecahan, serpihan, akibat benturan dengan lereng tadi,” kata Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono saat konferensi pers di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, Minggu (18/1/2026).

Soerjanto mengatakan pesawat tersebut masih dalam kendali pilot. Dia memastikan tidak ada upaya kesengajaan untuk ditabrakan ke lereng Gunung Bulusaraung. “Pesawatnya bisa dikontrol oleh pilotnya, tapi menabrak bukan sengaja. Tidak ada masalah untuk kendali dari pesawatnya,” ujar Soerjanto.

Pilkada & Pilpres

INSTAGRAM

2 hours ago
9 hours ago
21 hours ago
1 day ago

LAINNYA
x
x